Kenangan, Seharga Tiga Ratus Rupiah
Kapan terakhir pulang kampung? Tahun 2010 lalu. Lama banget, yah? Yah, beginilah nasib perantau hehehe, nggak harus menyesali nasib donog? Namanya juga hidup
Berhubung saya ini rantauannya dua kali #lho, iyah, dua kali. Jadi, setelah merantau di Malaysia, saya harus pulang ke dua tempat. Pertama pulang ke Cilegon, tempat rantauan saya. Kedua, pulang ke kampung halaman. Kampung di mana saya kecil dulu. Dan terakhir pulang, itu tahun 2010 lalu.
Pulang ke kampung halaman, ada banyak kenangan di waktu kecil. Temen-temen yang kebanyakan sudah menikah juga tempat-tempat di mana saya dulu sering bermain. Namanya di kampung, dulu saya sering banget mainnya di kali, ke sawah, ke hutan untuk mencari kayu juga kadang ke gunung. Gunung kecil, sih
Saya jarang banget main ke tempat pariwisata, nggak pernah ke laut dan nggak pernah lihat laut waktu kecil. Kampung saya itu jauh banget dari laut
Jadi, tempat-tempat pariwisata itu mahal banget buat saya.
Alkisah, saya mempunyai seorang teman yang rumahnya berdekatan. Temen saya itu mondok di sebuah pesantren. Kadang, kalau temen saya pulang pas mau ke pesantren lagi saya ikut menemaninya sampai di pesantren. Pesantren itu lumayan jauh dari kampung saya. Sekali naik angkot, setelah itu masih dilanjutkan dengan jalan kaki. Nah, selama berjalan kaki itulah saya melewati sebuah Taman Pariwisata pemandian.
[#15HariNgeblogFF] [2] Dag Dig Dug
Terlalu sederhana, saat aku bilang bahwa perasaan ini biasa saja. Tapi tak bisa saya pungkiri juga, kalau saya memang biasa-biasa saja. Meski masih ada cemas yang mendera juga gelisah yang melanda. Ah, entah apa aku menyebutnya.
Sudah jam tujuh pagi, tapi ruangan masih sunyi. Ke mana pasukan tujuh kurcaci yang selalu memenuhi ruangan ini? Aku membatin lesu.
Lagi-lagi, aku melirik jam tangan, yang letaknya tak berubah di sekitar pergelangan tangan. Jam tujuh lima belas menit, masih saja sepi…
Kali ini, cemas mulai melanda. Perasaanku, dag dig dug tentu saja, “Ke mana tujuh kurcaciku?” Aku mulai membatin lesu.
“Bu Lisa, Bu Lisa!,” Dari depan pintu gerbang Mang Komar berlari tergopoh-gopoh mendekatiku.
“Ada apa, Mang Komar?”Tiba saja Mang Komar di depanku, langsung kutanya tanpa jeda.
“Begini, Bu,” Mang Komar masih terengah-engah. “Saya mendapat kabar kalau…”, Lagi-lagi, Mang Komar mengatur nafasnya. Aku dibuat gemas oleh tindakannya.
“Ada apa, Mang Komar?” Cecarku. Mendadak, perasaanku kelu. Aku takut, kabar yang dibawa oleh Mang Komar tentang tujuh kurcaciku.
“Anak-anak, Bu. Anak-anak dikabarkan…”
“Dikabarkan kenapa, Mang?” Aku langsung memburu Tanya, berada lebih dekat ke depang mang Komar, takut kalau setiap inci kalimatnya tak mampu kudengar dari mulutnya. Ah, jantungku semakin berdegup kencang.
“Tenang dulu, Bu Lisa. Saya belum habis bicara,” Mang Komar sudah terlihat lebih tenang. Aku menjauhkan diri sedikit dari Mang Komar.
“Pagi ini, anak-anak tidak datang ke kelas karena van yang ddinaikii anak-anak dikabarkan mengalami kecelakaan.” Jelas Mang Komar.
“Kecelakaan?” Aku bertanya, dalam gumaman. “
“Iya, Bu. Dan dikabarkan salah seorang dari mereka meninggal.”
“Oh, God!” Aku terpaku, detak jantungku semakin memacu. Masih terngiang suara mungil Lily pagi tadi yang menelponnya kalau ia begitu gembira akan piknik pagi ini.
“Siapa yang meniggal, Mang?” Akhirnya soalan itu aku lontarkan juga.
“Lily, Bu. Van dikabarkan mengalami kecelakaan pada pukul enam tiga puluh pagi.” Lagi, Mang Komar menjelaskan.
“Enam tiga puluh? Jadi, jadi siapa yang menelponku? Suara mungil itu…?” Aku menatap Mang Komar Nanar. Sementara Mang Komar mematung tanpa tahu apa yang diucapkan olehku.
Keterangan, 326 kata tanpa judul
FF Senja di Mata Ayah
“Yah, Risa berangkat dulu.”
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Pulang cepat ya…”
Sekilas, aku menengok Ayah. Menatap wajahnya… Ah, wajah tua itu. Wajah senja yang sudah dikelilingi keriput tua.
“Kenapa, Yah?. “
“Usahakanlah kamu bisa pulang lebih awal.”
“Tapi kan Risa selalu sampai rumah setelah maghrib, Yah.”
“Kali ini, pulanglah lebih awal. Ada perkara yang ingin Ayah bicarakan.”
“Baik, Yah. Risa usahakan.” Setelah mencium tangan Ayah, aku segera berlalu meninggalkan Ayah. Suara tangis Nala mengejutkan Ayah, untuk segera berbalik arah ke dalam rumah. Ah, Ayah sampai kapan engkau menjadi Ibu rumah tangga? Menjaga ke dua cucumu setipa hari?.
**
Aku buru-buru keluar dari pabrik. Setelah mendapat izin pulang lebih awal dari mandorku. Sampai di depan pintu, aku dikejutkan dengan riuh rendah suara ke dua keponakanku dari dalam rumah. Juga, beberapa sandal dan sepatu yang berjejer di depan pintu tanpa kukenali.
Aku melangkah masuk. Melihat sekilas ke ruang tamu yang tak berapa besar. Owh, perempuan itu, perempuan yang berbulan-bulan tak terdengar kabarnya. Kini ia kembali muncul…
“Nak, duduklah…” Suara Ayah menyambutku. Sementara Nala dan adiknya bergayut manja dipangkuan Ibunya.
“Adikmu akan menikah lagi.” Suara Ayah perlahan, terdengar sendu.
Aku melirik adikku, yang duduk bersebelahan dengan lelaki yang tak kukenali. Juga beberapa orang, yang aku juga tak mengenalinya. Diam, melihat penampilannya ah, lagi-lagi aku harus terpukul. Lagi-lagi, aku harus kecewa dengan pernikahannya. Bukan, bukan karena ia akan melangkahiku lagi, tapi karena setiap kali akan menikah sudah ada janin di dalam perutnya
Repost tulisan lama , yang diikutkan lomba FF (239 kata) untuk pertama kalinya. N dapet juara favorit #nyengirrr.. Lah sekarang malah gak bisa bikin FF
Pengumuman Pemenang, “Blogger Return Contest”
Alhamdulilahirobil’alamin…
Akhirnya, dua minggu sudah berlalu dan saatnya pengumuman pemenang Blogger Return Contest dibuat. Setelah menanti nilai dari para juri, menghitung, mencocokan juga menjumlah hasilnya sampai jam dua dini hari pagi tadi, akhirnya hasil pemenang telah didapatkan.
Selamat kepada para peserta lomba yang beruntung menjadi pemenang. Ternyata, tema “Blogger Nggak Cuma Ngeblog” membuat kita menjadi tahu, bahwa banyak manfaat yang kita perolehi dari hasil ngeblog. Ada yang ketemu menteri, ada yang dapet materi yang awal mulanya dari sebuah blog. Jadi, masih berpikir ngeblog adalah kerjaan sia-sia? Jangan dulu. Insya Allah, selagi bisa, selagi mampu dan selagi kita berniat baik, di blog, banyak hal bermanfaat yang kita perolehi.
Dan berikut adalah nama-nama peserta yang beruntung dalam kontes kali ini:
1. Sabjan Badio, Kuputuskan Menjadi Seorang Blogger, Mengapa?
2. Mbak Siska Yuniati, Blog, Uang dan Popularitas
3. Tukiran, Ngebloh Yuuk! Ilmu Dapat, Amal Jariyah
Lima pemenang yang mendapatkan kaos Blogger Return Contest
1. Mas Bambang, Berbagi Bahasa dan Budaya, Bisa Lewat Ngeblog
2. Funnie, Menulis dan Berkicaulah Tanpa Batas
3. Mas Rifki, Blog Gue Cara Gue
4. Unggul Center, Mewariskan, Berbagi, Ngehost, Ngamen
5. Abi Sabila, Ada Namaku di Buku-Buku Itu
Lima pemenang yang mendapatkan buku
1. Mbak Yunda Hamasah, Tentang Ngeblogku
2. Daniel, Blog, I’am Coming Back!
3. Pak Dhe Cholik, Blogger Jangan Keblinger
4. Nita Nonasan, Ngeblog Itu Keren!
5. Bang Aswi, Cinta Tak Butuh Alasan
Dapat sponsor tambahan, tiga kotak pia-pia dari Mbak Amel dan yang beruntung mendapatkan pia-pia adalah,
1. Mbak Lusiana, Ngeblog Dengan Tujuan
2. Yusnita Febri, Berbagi Rasa, Dengan Untaian Kata
3. Mbak Kenia Huwada, Hidupkan Semangat Ngeblog
Kepada para pemenang, dimohon untuk mengirimkan e-mail kepada annazkia@gmail.com, dengan memberikan nama lengkap juga nomor rekening untuk yang mendapatkan hadiah uang. Dan kepada pemenang yang memperoleh buku dan kaos juga pia-pia, diharapkan mengirimkan nama juga alamat yang berada di Indonesia.
Ucapan terimakasih kami haturkan kepada:
- Sponsor utama, denaihati atas kepercayaanya kembali memberikan sponsor kepada anazkia.blogspot.com
- Mbak Amel, atas sponsor pia-pianya
- Hamba Allah yang tak mau disebut namanya
- Dewan juri, terimakasih atas kerja samanya.
- Sahabat dan teman-teman blogger dan mper’s atas partisipasinya.
Semoga kebaikan semuanya dibalas lebih baik dari yang Memiliki Kebaikan. Amin, Allahumma amin…
Dari Annida, Rumah Dunia, Sampai ke Malaysia

Kenangan jadul tahun 2005
Awalnya dari hobi saya yang kerap membaca majalah Annida pada setiap edisinya. Dari situ, saya mengetahui bahwa ada Pustakaloka Rumah Dunia (sekarang Rumah Dunia) yang berada di Serang. Saya yang kebetulan berada di Cilegon, sangat penasaran dengan keberadaan perpustakaan tersebut. Berbekal alamat juga nomor telpon yang tertera di majalah Annida, saya kerap berhubung dengan Mbak Tias. Pun ketika beberapa kali saya bertemu dengan Mas Gong di beberapa event kepenulisan, akhirnya saya dan seorang teman nekat datang ke Serang, untuk melihat perpustakaan tersebut.
Ahad, sore itu di awal tahun 2002. Bersama dengan seorang teman saya menuju Serang, menurut petunjuk Mbak Tias, dari Cilegon kami harus menaiki bus dan turun di Patung. Kemudian menaiki becak dari Patung-Serang, menuju Ciloang, Rumahnya Mas Gol A gong. Setelah sebelumnya saya menelpon Mbak Tias beberapa kali dari sebuah wartel. Kami diantar menuju rumahnya Mas Gol A Gong, awal kedatangan saya ke rumah Mas Gong adalah untuk mengunjungi perpustakaannya, Pustakaloka Rumah Dunia (kini menjadi Rumah Dunia). Tapi tukang becak mengantarkan kami tepat di depan rumah Mas Gol A Gong. Kehadiran kami diterima oleh Mbak Tias. Dengan senyum ramahnya, Mbak Tias menyambut kami. Dan langsung menyuruh kami menuju ke belakang rumah.

Rumah Dunia kini yang semakin melebarkan sayapnya
Melalui pintu samping, kami menjinjing sandal masing-masing menuju pendopo belakang. Akhirnya, saya bisa melihat dengan kepala sendiri apa yang ingin saya lihat, Pustakaloka Rumah Dunia. Di pendopo belakang, sudah berkumpul beberapa teman-teman lain. Seingat saya, teman-teman yang berada di situ dan sedang berdiskusi adalah, Ibnu, Najwa, Endang Rukmana, Adkhilni, Krisna, Mahdi, Muhzen Den, Kang Kizing juga saya dan seorang teman saya, Mutmainah. Sementara tak jauh dari pendopo, Kang Firman sedang duduk di kursi dengan sebuah gitarnya, Mas Gong dan Mas Jaiz terlihat sedang asyik berbincang.

Koperasi warga, dulu koperasi ini belum ada
Barulah saya tahu, kalau petang itu mereka sedang membicarakan tentang organisasi FLP (Forum Lingkar Pena) Serang. Sore itu, terbentuklah FLP di wilayah Serang, dengan Ibnu sebagai ketuanya. Dan Mas Jaiz, ketua sementara karena mengemban tugas dari majalah Annida memegang data beberapa anggota FLP yang terdaftar di majalah tersebut dan berdomisili di wilayah Serang dan sekitarnya. Saat petang menjelang, kami bersurai kembali pulang ke tempat masing-masing.
Karena baru pertama kali ke rumah dunia, saya ikut saja mereka berjalan, beriringan kami keluar dari pendopo sederhana rumah dunia. Ternyata, Mutmainah sudah kenal dengan Najwa dan itu memudahkan komunikasi kami. Najwa, tinggal di Ciceri, ia ngekos di sana sebagai salah seorang mahasiswa STAIN SMHB Serang (sekarang IAIN) Bersama dengan Mutmainah, saya mengikuti langkah Najwa dan Ibnu (yang juga sama satu kuliah dengan Najwa) Ternyata, dari Ciloang ke Ciceri mereka jalan kaki. Saya ingat, tempatnya dekat jadi kami ngekor aja. Dan ternyata oh ternyata, ia melewati beberapa kampung, termasuk tanah pekuburan! Edyan, batin saya. Ini pada nekat amat!

Writing camp tahun 2005 yang pertama kali diadakan oleh angkatan menulis kelima
Dan dari situlah permulaan kami mengembara sebuah ilmu di Rumah Dunia. Minggu-minggu seterusnya, saya kerap kali berkunjung ke rumah dunia. Waktu itu saya masih kelas dua SMU, pun dengan Endang dan Adkhilni, mereka semua masih di bangku SMU (SMU 1 Serang), hanya kami beda sekolah. Sementara Kang Kizing sudah bekerja di harian Radar Banten, Kang Firman kuliah di Bandung. Najwa dan Ibnu di IAIN, Krisna di SMEA 17 Serang, Mutmainah SMU Kramatwatu, tapi ia tak selalu datang. Akhirnya, lama kelamaan sayalah siswa paling jauh yang datang ke Serang.
Adalah kenangan indah, ketika kehadiran saya ke Serang ada kalanya dengan uang pas-pasan. Pas sampai di Serang, uang saya habis. Ibnu, yang kebetulan waktu itu menjadi volunteer pertama di rumah dunia menjadi todongan pertama untuk kami pinjamkan uang (saya dan Najwa) Pernah, suatu sore setelah diskusi dengan penulis (seingat saya Syamsa Hawa dan Adzimatunsiregar, anaknya Teh Pipiet) saya kehabisan ongkos. Pun dengan Najwa, ia tak memiliki ongkos ke Ciceri. Karena sudah malam, kami tak lagi berjalan melewati berbagai kampung. Akhirnya kami meminjam uang ke Ibnu, Rp.5000. Dan minggu depannya ketika uang itu dikembalikan, ia menolak. Terimakasih Ibnu…
Keberadaan kami di Rumah Dunia ketika itu, hampir semua dari kalangan ekonomi rendah. Juga sebagian besar adalah pelajar yang masih ngap-ngapan menanggung biaya hidup. Beruntung, ketika saya sudah bekerja, meskipun ia harus memutar otak karena gaji saya sebagai PRT ketika itu tak seberapa.
Waktu berlalu, saya adalah angkatan pertama di Rumah Dunia, tapi menjadi siswa pertama tak menjadikan saya orang yang mengutamakan menulis. Saya betul-betul menjadi siswa yang ndableg, nggak pernah nulis atau menyelesaikan tugas apapun yang diberikan oleh Mas Gong. Padahal semuanya gratis, direvisi gratis oleh Mas Gong. Pun saat Rumah dunia mengadakan antologi pertama, saya tidak mengikutinya. Kacamata Sidik, itulah antologi pertama temen-temen Rumah Dunia. Rasanya, sia-sia saja kepergian saya ke Rumah Dunia, sia-sia juga pengorbanan yang saya lakukan. Baik waktu maupun uang.
Saya vakum, tak lagi datang dan berkunjung ke Rumah Dunia.
Barulah ketika ada angkatan ke lima Rumah Dunia membuka kelasnya, saya kembali mengikutinya. kali ini dengan syarat membawa sebuah tulisan juga buku yang dimasukan dalam sebuah map. Dan lagi-lagi, saya membuat tulisan yang asal tulis dan asal jadi
Saya betul-netul tidak totalitas mengamalkan ilmu yang saya perolehi. Padahal di rumah dunia, saya diajari nulis fiksi, non fiksi, berita, featrure bahkan skenario. Duh, malangnya nasib ketika itu. Tak menjadi siswa yang melek ilmu.
Dari angkatan kelima juga, saya mengenali Wanja, seorang gadis nekat dari Palembang yang rela mengambil cuti kuliah hanya untuk mengikuti kelas menulis di Rumah Dunia. Ia mahasiswa UNSRI. Dari Wanja juga, akhirnya saya mendapatkan tawaran kerja di Malaysia karena istri Omnya orang Malaysia.
Maka berpetualanglah saya ke negri jiran, bergulat dengan pekerjaan rumah tangga yang kadang membuat saya jenuh. Setahun pertama, saya tidak diperbolehkan ke mana-mana. Perasaan bosan selalu melanda. Beruntung ketika saya boleh menggunakan internet, dari internet saya mengenali beberapa teman juga mengenal blog dan akhirnya, saya mulai berani menulis untuk di publish, meskipun ia hanya sebatas blog. Yah, satu demi satu saya masih mengingat apa yang telah diajarkan oleh Mas Gong. Ternyata, tidak ada yang sia-sia pada sebuah ilmu. Dan kenyataan yang saya dapat, menulis bukanlah sebanyak dan sejauh mana kita belajar, tapi sejauh mana kita berani untuk menulis.
Rumah Dunia, membuka mata saya bahwa belajar tidak sebatas di bangku kuliahan, tapi juga pada bangku kehidupan. Itulah semangat yang selalu didengungkan oleh Mas Gong kepada kami semua, para pelajarnya. Dan ketika tahun lalu saya pulang, saya melihat begitu banyak perubahan di sana, selain tempat juga alumni-alumninya. Ibnu, yang dulu saya pinjam uangnya lima ribu, sekarang ia telah menjadi seorang ayah dan menyelesaikan S2nya di Leiden. Kang Firman, telah menyelesaikan S2nya di bandung dan menjadi dosen sastra di UNTIRTA (Universitas Tirtayasa), Endang yang pernah menyabet juara Anugerah Unicef Award for Indonesian Young Writers 2004, novelnya sudah beberapa kali nyangkut di bentang Pustaka dan Gramedia, Najwa dengan beberapa karyanya, Adkhilni yang telah menjadi diplomat, kang Kizing yang masih setia menjadi wartawan di Radar Banten, juga kesuksesan-kesuksesan sahabat-sahabat lainnya.
Tak hanya Mas Gong yang kerap mengajari kami, Mas Toto St Radik, penyair banten juga selalu mengajari kami tentang puisi. Kalau sudah melihat beliau tampil membaca puisi, kadang saya dibuai iri
terimakasih buat ilmu dan penglamannya buat para pendiri Rumah Dunia, termasuk almarhum Pak Rys revolta.

Pulang tahun lalu sempat ikutan workshop teater Ode Kampung 4

Ada Mas Toto juga, penyair Banten

nampang bareng Pak Iman Sholeh, seru kasih teori dan praktek teaternya



