Posted in Uncategorized

me and my employer

Nah, inilah majikan saya. Namanya Datin Hjh. Rusmiati Harun. Dia nih, baik banget ma aku eh, gak juga dink dia nih emang baik ama siapa aja. Aku manggil majikan aku ibu. Aku emang beruntung banget bisa kerja di rumah ibu. Alhamdulilah, segala kebaikan itu datangnya dari Allah.

Tapi khan, kadang aku kasihan ama ibu. Aku kan gak bisa banget buat kerja rumah. Pemalas hehehe… Tapi, ibu bilang mau cari orang yang 100% sempurna susah. Jadi, ibu menerima segala kelbihan da kekurangan ku.
Posted in Uncategorized

Kado Buat Sahabat

Kado Buat Sahabat

Dengan ijin dan kuasa Allah, kita di pertemukan. Mengenali satu sama lain, mengetahui hati budi masing-masing. Waktulah yang mendekatkan kita, bertanya khabar bertukar cerita. Ada saat suka, juga tak kurang duka. Saat marah, di situlah kita tahu kelemahan dan kekurangan kita. Saat bahagia, tak kurang tawa. Saat duka, di sinilah kita menemui arti seorang sahabat. Saling menasehati, saling mengingatkan juga saling memotivasi.

Masa yang berlalu begitu pantas, tak terasa persahabatan kita sudah memasuki 2 tahun. Dan, 3 Ramadhan inilah ku anggap sebagai hari persahabatn kita. Kalo kita selalu menjadikan hari ulang tahun atau apapun apa salahnya kita buat ” Hari Persahabatan ”. Tiada dapat yang aku beri kecuali seuntai do’a, dengan harapan persahabatan kita ikhlas karena-Nya dan di Ridhoi oleh-Nya Amiin… Terimakasih juga karena telah memberikan aku banyak hal pengajaran dan pelajaran yang kau beri semoga ianya bermanfaat. Insya Allah…

Aku teringin memberikan ”kado”. Ia begitu barharga. Sebetulnya aku juga ragu-ragu untuk manghadiahkannya. Apa aku pantas…??? Sekiranya engkau menolak hadiah ku, mohon di kembalikan. Aku mungkin tak pantas untuk memberikan hadiah itu. Tapi, jujur aja aku tertarik dengan arti yang terkandung di dalamnya. Sebelumnya, mohon maaf yang sebesar2nya jikalau memang aku tak pantas menghadiahkan ini mohon di kembalikan. Jangan salah tafsir dengan pemberianku. Aku hanya ingin mencari ke ikhlasan dalam persahabtan kita. Sekiranya, aku tidak bisa menemukannya akan ku ambil kembali ”kado” yang telah ku beri. Ku hadiahkan Surat Ar-Rahman untuk hari persahabatan kita.

Posted in Uncategorized

Kenapa TKW Semakin Nekad…???

Suaranya sedu-sedan ketika menceritakan masalah yang di hadapinya. Sesekali , isak tangisnya terdengar bercampur baur antara isakan dan dan cerita, semakin lama suara itu semakin perlahan justeru tangisnya yang semakin kuat, setelah beberapa lama dia baru boleh mengendalikan emosi dan terdiamlah kita. Aku pun bingung mo ngomong apa…??? Beberapa saat, kita terdiam. Aku masih memegang gagang telepon, sesekali mengeluh perlahan membayangkan berbagai ceritanya.

”Saya udah gak sabar mba Ana, saya kerja di sini hendak menggadaikan tenaga, bukan menggadaikan perasaan saya”. Begitulah antara luahannya. ”Yang paling sakit, saat dia kutuk saya tak selamat, pembantu rumah tak tahu diri”. Itulah antara luahan teman ku. Sesama pembantu rumah tangga, aku merasa tersinggung juga denger kata-kata kayak gitu. Aku bayangin kalo posisi aku ada ama dia, tak terbayang aku mau buat apa. Mungkin menangis tiap hari yang aku lakukan.

Temanku, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sudah hampir dua tahun dia bekerja di Malaysia, Sama saja dengan ku. Awal mulanya, dia baik-baik saja dengan majikan dia. Bahkan, sampai sekarang pun dia dengan majikannya masih baik. Yang jadi masalah, saat ibu mertua majikan perempuan tinggal serumah dengan anaknya. Pada awalnya ibu mertuanya itu ok, gak ada masalah dengan temen ku tersebut. Entah penyakit tua atau apa, lama kelamaan ibu mertuanya itu berkelakuan tidak menyenangkan. Apa yang di buat oleh temen saya semuanya tidak betul. Apa yang di kerjakannya selalu di laporkan kepada majikan temen ku.

Kebetulan mereka tidur satu kamar. Setiap temenku buka kipas, orang tu selalu gak boleh. Katanya, dinginlah dan berbagai helah lagi. Karena panas, temenku pun tidur di lantai. Tapi, dia pun marah-marah alasannya, susah mau lewatlah apalah. Tambah setres aja temenku ni. Hujung minggu, nenek tu kononnya minta di masakan ketan. Karena sibuk temanku tidak sempat memasak. Esoknya, nenek tu marah gak tahu sebab. Tong sampah rusak, di tuduhnya temen saya yang rusakkan. Piring pecah dikit nyangka temenku juga. Dari situlah dia mulai memaki barbagai kata yang menyakitkan hati. Majikan temenku berpesan,kalo nenek tuh marah-marah jangan di jawab. Maka, diam sajalah temenku itu. Karena dah tak sabar berceritalah ia semuanya denganku. Aku cadangkan, gimana kalo pulang aja..?? kalo emang betul-betul dah gak tahan. Temenku bilang, majikannya gak akan bagi karena kontrak dia masih ada beberapa bulan lagi dan majikannya itu gak mau rugi.

Esoknya, aku pun telfon dia. Suaranya masih sayu. Aku pun tanya tentang perkembangan masalahnya. Tanpa berlengah, dia pun bercerita. Tadi malam majikannya menyidang dia. Terus tanya apa yang temanku mahukan..?? Dengan tegas temanku menjawab ingin pulang. Dengar pulang saja majikannya tuh dah takut katanya, gimana engga bentar lagi dia mau naik Haji. Lagian sekarang, orang Malaysia susah mau cari pembantu Rumah tangga dari Indonesia. Mereka pun mencari jalan penyelesaiannya… Akhirnya mereka sepakat, kalo temanku itu tidurnya mo pisah dari nenek tu. Temanku itu, tinggal di sebuah flat kamarnya Cuma ada tiga. Kamar satu lagi nanti, ada orang tuanya majikan perempuan. Temenku di tawarkan tidur ama dia tapi, dia menolak. Akhirnya, mereka membersihkan ruangan yang di belakang lebih tepatnya gudang. Mereka berkemas sampai pagi… Majikan perempuan berpesan sama temenku, jangan menceritakan masalahnya sampai ke kampung. Nanti, orang sangka awak kena dera pula. Sambil memeluk temanku.

Saat, ngobrol kayak gitu temenku masih emosional. Dia pun sesekali masih terisak-isak. Aku hanya bisa menenangkannya. Sampai-sampai terlontar kata yang aku tak sangka dia akan mengeluarkan kata-kata itu. ”Saya pun boleh buat kayak orang lain buat mba ana tapi, saya masih sedar”. Ucapnya. Terbayang di benak ku, beberapa kasus TKW yang mencedarakan majikannya. Juga kasus pembantu yang lompat dari Kondominium. Walaupun tak sedikit juga majikan yang mendera pembantunya. Dulu, waktu aku awal-awal datang ada seorang TKW yang di dakwa di pengadilan karena ingin meracun majikannya. Astagfirullahaladzim… Tapi, alhamdulialh temanku tidak melakukanya. ”Kamu masih sanggup?” tanyaku. ”Biarlah mba Ana, empat bulan lagi Insya Allah aku kuat”. Semoga saja.

Posted in Uncategorized

Bawang Merah, Bawang Putih

Sewaktu aku kecil, aku sering nginep di rumah tetanggaku. Namanya made Ripah. Tetanggaku itu suaminya seorang guru. Saat suaminya bertugas ke luar kota, aku dengan kaka ku selalu di ajak tidur di rumahnya. Kebetulan anak-anaknya pun belajar di luar kota. Yang paling aku suka saat menginap di rumahnya adalah, saat dia bercerita berbagai dongeng.

Waktu itu, di kampung ku belum ada TV. Listrik pun belum ada lagi. Kami hanya menggunakan damar, dari minyak tanah. Berbagai dongeng made Ripah selalu ceritakan dari Bawang merah Bawang putih, Timun mas, Cinderelela, Ande-ande lumut, Hansel & Gratel dan banyak lagi aku pun sudah banyak yang lupa.

Tak jarang, made Ripah terlena sebelum menghabiskan jalan ceritanya. Aku dan kaka ku yang terpaku oleh ceritanya kadang selalu membangunkan, mengoyang-goyangkan bahunya ( ” made-made, dereng telas ceritane ” ). Dia pun terkejut, tapi sama sekali gak marah. ” sampai mana tadi…?”. made Ripah pun melanjutkan kembali cerita.

Tidak hanya cerita di malam hari, terkadang saat aku menaminya pergi ke kebun untuk menuai cabe pun made Ripah selalu mendongeng. Itulah yang aku suka. Ceritanya pun kadang berulang-ulang tapi, aku tidak bosan untuk mendengar.

Begitu kuatnya imaginasi kekanak-kanakkan ku saat itu, aku selalu membayangkan bagaimana rupa bawang merah, rupa bawang putih juga ibu tirinya. Tentunya, tak pernah terbayang sedikitpun rupa mereka seperti Revalina S Temat ataupun Nia Ramadhani. Yang paling aku penasaran wajah cindrelela, tentunya dia sangat cantik.

Walaupun Bawang merah, Bawang putih sudah di sinetronkan, aku tidak begitu minat untuk menontonnya. Terlalu berlebihan jalan ceritanya, banyak yang gak masuk akal. Buatku saat medengar dongeng itu lebih mengasyikan. Tapi, sinetron itu ternyata sukses di pasaran. Terbukti banyak orang yang meminatinya.

Pun saat sinetron itu di tayangkan di Malaysia, ramai orang yang menonton, ramai orang yang minat walaupun tidak sedikit juga yang mengutuk. Menurut penyelidikan, dari 25 juta rakyat Malaysia yang menonton sinetron ini sebanyak 3 juta lebih. Banyak yang protes untuk segera menghentikan penayangan sinetron itu, yang lebih parahnya sampai masuk ke parlimen. Kononya, kwalitas pekerja banyak yang terjejas. Jam tayang sinetron itu jam tengah tiga sore, saat jam tayang itulah ramai para pekerja yang meninggalkan tempat kerjanya. Semata-mata hanya untuk menonton sinetron. Semakin banyak orang yang memprotes untuk menghentikan penayangannya, semakin banyak juga yang penasaran untuk menonton cerita itu. Akhirnya, sampai ending juga sinetron tu. Saat-saat sinetron ini akan habis, di edarkan juga dalam bentuk CD.

Yang lebih mengejutkan, saat aku membaca surat kabar. Ada seorang ibu yang di penjara gara-gara mencuri satu paket CD bawang merah bawang putih di sebuah supermarket. Kenapa ibu itu sampai mencuri CD tersebut…??? karena penasaran, ibu tersebut gak bisa lihat episode terakhir bawang merah bawang putih!!!. Masya Allah, Inalillah..

Posted in Uncategorized

Rindu Ibu

Berada jauh di negara orang, aku jadi semakin sadar sejauh mana berartinya ibu untuk diriku. Dah hampir dua tahun gak ketemu ama ibu, kangen banget. Yang paling aku kangen adalah masakan ibu… juga panggilannya ama aku. ibu ku, selalu memanggil ku mba ana. Di sini ( Malaysia ) mana ada orang panggil mba.

Terkadang, aku juga merasa bersalah kepada ibuku. Tak banyak aku menolong ibuku justeru, semakin banyak aku merepotkannya. Dari lubuk hatiku, aku sebenernya tak ingin berjauhan dengan ibuku. Tapi, keadaan memaksaku untuk berbuat seperti itu.
Ibu, maafkan anakmu jikalau selama ini banyak menyusahkan mu. Idul Fitri tahun ini, untuk kedua kalinya aku berada jauh darimu. Juga Ramadhan ke 2 aku di negara orang. Aku baik-baik saja ibu, berkat do’amu. Ibu, selamat menyambut Ramadhan… maafkan segala khilaf dan salahku. Semoga Ramadhan ini membawa berkah untuk kita. Amin… Aku kangen ama Ibu…