Posted in Uncategorized

Pertemuan Adalah Awal Dari Perpisahan

Terbujur mayat seorang lelaki, di sebelah kanan dan kirinya ada beberapa orang yang sedang membacakan Surah Yassin untuknya. Sementara tak jauh dari situ seorang wanita menangis pilu, memeluk kakanya. Aku terpaku menyaksikan adegan drama kehidupan itu. Sedih dan pilu menggayut di kalbu. Tak terasa aku pun menitikan air mata, sejak awal masuk ke rumah itu.

Aku beranjak menuju ke bagian depan ruang tamu. Kemudian ku teliti mayat lelaki itu, ku perhatikan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Walaupun tak kuasa menahan kesedihan ku kuatkan juga untuk melihat mayat itu. Benar saja, aku mengenali mayat itu. Kemarin, lelaki itu baru saja menelfonku dan mengabarkan akan pulang hari ini, Tapi, apa yang ku lihat lain dengan apa yang ku hadapi sekarang. Mayat itu adalah bapak ku dan wanita yang manangis pilu di ujung sana adalah ibuku.

Sedih tak terkata saat itu. Dulu, kalo bapakku pergi merantau aku boleh menjumpainya lagi. Tapi sekarang, bapakku pergi untuk selama-lamanya. Ajal, jodoh, rizki betul-betul kuasa Allah. Aku tidak menyangka kemarin, aku mendengar suara bapaku untuk yang terakhir kalinya.

Walaupun kejadian itu sudah hampir tujuh tahun berlalu aku masih selalu ingat dan ada hikmah di sebalik itu. Aku selalu menanamkan dalam hati bahwa, apa yang kita miliki tiada yang kekal. Pada waktunya, jika Allah hendak mengambil kembali apa yang menjadi Hak-Nya kita pun harus ikhlas. Pun dalam berteman, adakalanya aku selalu mengandaikan bahwa pertemuan itu adalah awal dari perpisahan.

Posted in Uncategorized

DiTinggalkan dan Meninggalkan

Di tinggalkan orang tua merantau sejak kecil menjadikanku terbiasa saat jauh dari orang tua. Bukannya aku gak kangen atau gak ingat ama mereka. Sesekali perasaan rindu itu pasti ada tapi, ku coba untuk menepisnya. Dalam menepiskan perasaan itu terkadang menimbulkan kesedihan.

Masih teringat masa kecilku, entah sejak umur berapa tahun orang tuaku meninggalkan ku dengan nenek dan budeku. Mungkin sejak usiaku 3 tahun, aku ingat saat ibuku pulang sering mengendongku. Waktu itu, aku pun masih ingat-ingat lupa. Awal-awal aku di tinggal merantau ke Tegal, beberapa bulan sekali orang tuaku datang untuk menjenguk aku dan kakaku. Saat itu, aku belum mempunyai adik.

Bukan hanya ke Tegal, orang tuaku pun merantau ke Cilegon. Semakin jauhlah aku dengan orang tuaku dan semakin jarang aku berjumpa dengan mereka. Terkadang setahun sekali, bahkan bisa lebih. Semakin besar, aku semakin memahami arti perpisahan. Perasaan gembira dan sedih saat orang tuaku pulang kampung. Gembira, karena mereka datang dan ada di dekatku. Dan yang membuatku paling sedih adalah saat mereka hendak pergi kembali ke Cilegon.

Kalau mereka mau berangkat, aku dan kakaku selalu menghantarnya sampai ke jalan raya. Nenek dan orang tuaku selalu melarang tapi, kita tetap ngotot mau nganterin mereka. Yang aku ingat, saat ayah dan ibuku sudah berangkat, aku selalu nangis di tepi jendela dari senja hari sampai malam hari. Neneku dengan setia menemani dan mendiamkan ku. Dalam tangisku, aku selalu berharap ibu dan ayah ku akan berbalik arah dan kembali pulang ke kampung. Aku pun selalu berpikir kalo mereka tidak menyayangiku. Tapi, setelah dewasa aku dan kakaku menyusul ke Cilegon.

Kini, setelah aku dewasa betapa sakit dan sedihnya juga saat harus meninggalkan orang tuaku. Masih teringat jelas, waktu aku mau berangkat ke Malaysia. Ibuku dengan langkah perlahan mengiringi kepergianku, ku hulur salam mencium tangannya ibuku diam tak berkata apa. Tapi, aku tidak tahu apa yang terpikir di benaknya. Mungkinkah sama sedihnya saat aku di tinggalkan dulu…??? ” Di tinggalkan dan meninggalkan ternyata, sama-sama sakit dan menyedihkan… ”

Posted in Uncategorized

Perumpamaan Hidup

Seperti biasanya, aku sering di ajak pergi jalan oleh majikan ku. Terkadang untuk pergi ceramah, pergi pengajian ataupun saat dia pergi ke Masjid Negara sebagai seorang kounselor.

Beberapa hari yang lalu, ibu (aku panggil ibu dengan majikanku) mengajakku menghantar kerupuk ke Kuala Lumpur di berbagai tempat. Seperti tahun sebelumnya setiap hendak lebaran kami membuat kerupuk dan menghantarnya ke kawan-kawan majikan ku untuk di edarkan lagi.

Ada cerita lucu saat aku ikut menghantarkan kerupuk. Mana tidaknya, untuk mempercepat perjalanan, ibu tidak mencari parkir. Ibu hanya berhenti di depan kantor. Kemudian dia menyuruh ku duduk di tempat kemudi. Di tempat yang ke dua pun demikian, aku di suruhnya duduk di tempat kemudi.

Rasa lucu juga saat aku duduk di depan stir mobil. Mana tidaknya aku sama sekali tidak pandai menyetir mobil, saat duduk di depan stir rasa canggung pun ada. Aku juga ngebayangin, gimana kalo tiba-tiba ada temanku, mungkin dia akan mentertawakan ku. Untuk menghilangkan jenuh, ku buka-buka tas ku. Mencari sesuatu yang bisa menghilangkan bosan. Aku selalu menyelitkan buku di dalam tas, kemanapun aku pergi biar kalo lagi bosan gini ada yang bisa baca . Tapi, aku berubah fikiran kebetulan aku juga abis beli kartu lebaran untuk di kirim ke ortu dan temen. Akhirnya ku tulis-tulis aja di kartu lebaran.

Sesekali aku menengok kanan-kiri menunggu ibu cepat sampai. Kebetulan waktu itu adalah jam istirahat. Jadi, banyak orang yang lalu lalang di tepi jalan. Tak sedikit pula yang melirik ke arahku. Aku jadi merasa semakin lucu. Aku ngebayangin gimana kalo tiba-tiba ada orang atau polisi yang menyuruh ku keluar dari area itu. Tentunya, aku gak bisa ngapa-ngapain. Mungkin malu pun ada, gak bisa nyetir ko ada di depan kemudi.

Sampai sekarang, aku kalo ingat kejadian itu masih tersenyum sendiri. Jadi ingat ama buku motivasinya HM. Tuah, dia mengibaratkan keberhasilan hidup ibarat seorang pilot yang mengendalikan sebuah kapal terbang. Aku pun jadi terfikir dan membuat pengandaian. Sama juga orang yang mengendarai mobil, bisa di jadikan falsafah hidup.

Kehidupan kita ibarat mengendarai sebuah mobil, mencari tempat yang akan kita tuju. Yang pertama tentunya kita harus pandai nyetir mobil, kita juga harus tahu jalan yang akan kita tuju, kita juga harus tahu kapan kita harus belok ke kanan dan kapan kita harus belok ke kiri. Walaupun kita sesekali bertanya kepada orang, orang lain hanya sebagai penunjuk jalan bukan yang menentukan jalan.