Posted in Uncategorized

Baju Raya

Kalau yang pernah baca tulisan, ”Baju Lebaran” mungkin akan tahu. Setelah dewasa, aku tidak begitu mementingkan baju lebaran. Buatku, asal masih ada baju yang sesuai untuk ke Masjid aku tak risau. Yang penting hatinya man… ( cie…)

Di sini, baju lebaran selalu buat (jahit). Dan terkadang, dua atau satu bulan sebelum puasa ibu sudah membawa kain ke tukang jahit. Tapi, tahun ini di karenakan sibuk ibu lupa. Sampailah ke bulan puasa baru menghantar kain untuk di jahit. Aku sebenernya gak peduli, mau di jahitin apa enggak.

Waktu sampai ke tukang jahit, dia pun bilang. Kalau gak janji bisa nyelesain sebelum lebaran. Aku pun bilang gak apa-apa tapi, ibu ngeyel bilang, kalo bisa usahain sebelum raya harus jadi.

Tiba hari raya, kebetulan baju itu belum jadi juga. Aku, cuek aja. Siang hari, ibu tanya lagi, ”Esok Eli nak pake baju mane..??”
”Alah… Baju Eli kan ada lagi” Jawabku. ”Lagipun, ka Mona dah bagi mukena buat Eli” Aku menambahkan.
Ka Irina pun menanyakan hal yang sama, ”Eli, bang Hasif tanya dah ada baju raya belum?”
”Tak payah lah… baju Eli pun adalagi” Aku berkilah

Sampai malam tiba, ibu kembali menanyakan baju. ”Eli, esok pake baju apa…???”
”Baju ibu khan banyak, Eli pake baju ibu je ye…?” Aku nyengir
” kalo boleh… Awak ni khan kecik” Ini yang paling aku gak suka. Selalu di bilang kecil.

Terus bang Hasif tiba-tiba nyeletuk, ”Eli, ka Irina nak jumpe”
Ku cari-cari ka Irina ternyata, ada dalam kamarnya. ”Nape ka Irina, kate cari Eli?”
”Kejap-kejap” Ujarnya, sambil mengusapkan sedikit bedak ke mukanya. Aku pun keluar bilik.
”Eli, ni tadi kita belikan baju untuk Eli. Yang pilih corak bang Hasif, pilih saiz juga bang Hasif” Ujar ka Irina sebaik keluar dari bilik.
Gak enak juga dalam hati tapi, dah rizki terima aja.
”Eli ni, kenik sangat susah nak cari kan saiz baju. Itu dah sss…” ujar bang Hasif. Huh… ini lagi, inilagi. Ku coba juga baju kurung yang bang Hasif dan ka Irina belikan.

”hiiii…Kurusnnya ke Eli” Ujar Nini sebaik aku keluar memakai baju kurung. Argh…. Aku ni kurus sangat ke…???. Tapi, alhamdulilah…aku beraya juga dengan baju baru.

Nah, kemarin malam, Ibu ngambil baju. Baru jadi rupanya baju ku.
”Eli, baju Eli dah siap.”
”Makasih ye bu…” Ujarku.
Terus, aku make baju baru itu. ”Ibu, cantik tak…???” Tanyaku.
”Cantik. Cantik juga yah ibu itu jahit baju” Ujar ibu.
”Ibu, raya dah lewat. Nak pake pegi mane baju ni…???”
”Awak, beraya lah sorang-sorang” Ujar ibu berjenaka. Tergelak besar aku di buatnya. ”Eli ni, cantik pake baju kurung, tak de lah macam budak-budak”
”Eli ni macam budak-budak ke?” Tanya ku protes
”Ho’oh” Ibu menganggukan kepala. Ihhhhh sebelllll…..

Gombak, 30 Oktober 2007
01:48

Posted in Uncategorized

Kesuksesan Itu, Relatif

Terkadang, dalam diam aku berfikir, dalam berjalan aku memikir. Apa arti kesuksesan buatku…??? Entahlah…. Aku pun tidak tahu pasti. Di usia ku yang sudah seperempat abad ini, sering tertanya-tanya juga, apa yang sudah aku lakukan dan apa yang paling aku banggakan?.

Kalau ngeliat profil orang yang seumuran denganku, mereka dah sukses terbersit juga rasa iri di hati. Pertanyaan nakal pun sering timbul, ”Kenapa aku tidak seperti dia yah…???” Dan banyak lagi pertanyaan kenapa dan mengapa. Kalau di ikutkan, kita jadi kufur nikmat, merasa Allah tu tidak adil, tidak bernasib baik dan macam-macam lagi. Dan, aku harus cepat-cepat mengusir pertanyaan-pertanyaan ini.

Anak menantu majikan aku, usianya lebih tua setahun dari ku. Dia sudah punya mobil, kuliah lagi ambil master. Waktu ngobrol ma dia, tercetuslah dari mulut ku, ”Ka Irina hebat yah, dah banyak buat hal sedang Eli, masih macam ni je” Ujarku. Terus dia menyahut, ”Kita lain… (terusnya lupa dia ngomong apa…???). Tapi, dari sini aku bisa ambil pelajaran berharga.

Aku di lahirkan dari dari sebuah keluarga sederhana, bahkan boleh di bilang miskin. Di salah satu desa di Kabupaten Pemalang, tepatnya di Karangsari. Almarhum bapak ku, seorang kuli bangunan, sedang ibu ku, seorang ibu rumah tangga. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ibuku juga nyambi kerja sebagai pembantu. Masa kecilku, ku habiskan di Kampung sampailah usia 13 tahun. Setelah lulus SD, aku berniat melanjutkan sekolah tapi, karena orang tuaku terlambat datang dari Cilegon akhirnya aku tidak meneruskan sekolah. Untuk mengisi waktu luang, aku ikut nguli dengan bude ku. Bayarannya tidak begitu besar, kalau aku tidak salah hanya Rp.700, dan itu pun di bayar seminggu sekali, kalo mandornya gak ada kadang sampai sepuluh hari. Melihat sahabat-sahabat dekatku pergi sekolah, dalam hati teringin juga tapi, ku pendam dalam-dalam keinginan itu. Yang paling aku sedih, kalau kebetulan aku pulang dari sawah itu ketemu temen-temen yang abis pulang sekolah SMP, rasa malu pun ada.

Tidak lama setelah itu, budeku pergi ke Tangerang kerja sebagai pembantu. Aku dan kaka ku memang selalu tinggal dengan nenek sejak kecil. Orang tua ku merantau di Cilegon, sebelum di Cilegon, merantau di Tegal. Beberapa bulan di Tangerang, budeku pulang dengan majikannya. Rupa-rupanya kepulangannya hendak membawaku kerja ke Tangerang, kerja satu rumah dengan budeku. Aku gembira, walaupun Cuma bekerja sebagai pembantu. Dalam benak ku, aku gembira hendak pergi ke kota. Di Tangerang, aku tidak lama mungkin sekitar empat bulan. Karena sudah dekat dengan Cilegon, aku jadi tidak kerasan. Aku ingin tinggal dengan orang tuaku, dari situ aku mulai sering menangis dan akhirnya, aku pulang ke Cilegon. Sementara, budeku masih bertahan di Tangerang.

Di Cilegon, aku juga tidak lama. Setelah itu, majikan ibuku memberikan penawaran supaya aku tinggal di Pamulang, nanti mau di suruh kursus jahit. Aku pun akhirnya pergi ke Pamulang. Di Pamulang pun tidak lama, aku kembali lagi ke cilegon.

Untuk yang kedua kalinya aku pergi ke Pamulang, kerja dengan adik majikan kua yang sebelumnya. Waktu itu, aku mau di sekolahin di salah satu SMP terdekat. Tapi, akhirnya aku menolak karena orang tuaku sibuk dan kebetulan, kaka ku pun sudah tinggal di Cilegon. Kaka ku, hanya sempat menamatkan pendidikannya hanya sampai SMP. Akhirnya aku pulang ke Cilegon.

Tidak terasa, sudah dua tahun aku lulus dari sekolah SD. Keinginan untuk bersekolah masih ku pendam. Dan Alhamdulilah aku bersyukur kepada Allah, di umurku yang masuk ke 15 tahun aku baru masuk sekolah Mts. Aku masih ingat, dari mana uang pendaftaran ku, uang gaji kaka ku. Kaka ku, menolong mencuci baju orang yang ngekos di rumah majikan ibu ku (Mba, matur nuwun pisan ya, semoga amalan mu berkah di sisi Allah, dan Allah karuniakan Rahmat-Nya).

Pergi sekolah, menjadi rutinitas yang menyenangkan buatku. Akhirnya, bisa juga aku menikmati alam sekolah lagi. Tidak lama aku sekolah, coba’an Allah mulai datang, kekurangan ekonomi, menjadi puncanya. Akhirnya aku ikut dengan orang yang sebelumnya ngontrak di rumah majikan ku. Aku dengan kaka ku, sementara kedua orang tuaku, dan kedua adik ku ngontrak.

Di sinilah mulai kehidupan baru buat ku. Kaka ku tugasnya, mencuci baju, gosok baju dan kemas rumah. Sementara aku memasak dan kadang menolong kaka ku mengemas rumah. Akhirnya, selain belajar, aku juga merangkap jadi seorang pembantu. Awalnya, susah juga, karena aku belum begitu pinter masak. Tapi, alhamdulilah semuanya baik-baik aja.

Dua tahun setelah itu, kalo tidak salah kaka ku menikah. Aku sendirian, sedih juga tapi, aku harus meneruskan perjuangan ku. Waktu itu, aku baru saja kelas 3 Mts. Majikan ku mencari orang untuk mencuci baju, gosok dan kemas rumah. Sedang aku masih dapat tugas seperti awal, memasak.

Sampai kelas 2 Aliyah, aku nyambi kerja dan sekolah. Terus, aku ikut kaka ku sampai aku lulus Aliyah. Setelah lulus Aliyah, temen-temen sibuk nyari kerja aku pun sibuk juga nyari kerja. Sebenernya, sudah ada penawaran jadi guru pendamping di sebuah sekolah swasta. Aku berminat tapi, ada juga penawaran jadi pembantu Rumah Tangga. Ibuku, kenal dengan orang tersebut. Kaka dan ibuku memberi nasihat supaya aku ambil kerja sebagai pembantu. Sebenarnya, dalam hati aku berontak aku ingin kerja yang lain juga tidak hanya sebagai pembantu saja. Tapi, akhirnya aku akur… Dan, sampai lah aku hendak pergi ke Malaysia aku tetap bekerja sebagai pembantu.

Lalu, di manakah arti kesuksesan buat ku…??? Sederhana saja, buatku sedikit kesuksesan sudah aku perolehi, bukan berarti, aku tidak menginginkan kehidupan yang lebih baik lagi. Ingat dengan sms seorang sahabat, ”Bersyukur dengan apa yang di beri dan bersabar apabila di uji.”

Gombak, 30 Oktober 2007
01:05

Posted in Uncategorized

Untuk Mbak ku…

Assalamu’alikum wr.wb

Mbak, pa khabar…??? dah sembuh belum sakit giginya…??? kamu nich, sakit ko gugur satu, tumbuh satu. Tapi, tetep sabar aja yah… semoga dengan sakit yang kau tanggung mengurangi sebagian dosa-dosa mu. Dan yakinlah… bahwa Allah lah yang memberi penyakit dan Allah jugalah yang menyembuhkan penyakit.

Mbak, jangan sedih-sedih baca tulisan ku yah… Aku tahu kamu pembaca setia blog ku setelah adik angkatku. Hehehe… Jangan lupa, kritik dan sarannya yah…

Oh ya, aku ada cerita yang lucu. Kamu masih inget gak…??? Waktu kamu jatuh terlentang pagi-pagi abis shalat subuh, waktu itu kita mau jalan-jalan ama mbak Arum dan temen-temen yang lain. Terus, kamu inget gak apa yang kamu ucapkan saat itu…???? Inget gak…???? Kalo aku bilang kayaknya kamu bakalan ketawa, ketawa yang mengeluarkan air mata saking lucunya, juga betapa indahnya masa-masa kecil kita dahulu. Inget gak mbak, kamu ngomong apa…??? JON… TULUNG… NYONGE TIBA….!!! Wakakaka…. hehehe, aku pun nangis mba inget ini.

Aku juga dah kangen, pengen pulang, pengennnnn banget…. Doakan, aku sehat Insya Allah aku segera pulang. mbak, tulis komen kek, ama tulisan ku. Kalau gak bisa mnta ajarin ama mas Marno, hehehe maaf ya. Salam sayang dan rinduku untuk keluarga tercinta.

Gombak, 30 Oktober 2007

Posted in Uncategorized

Jadikan Masalah Sebagai Peluang

Jadikan masalah sebagai peluang, itulah kata-kata motovasi yang aku dapatkan dari buku motivasi terbaruku. Tentunya, dari penulis yang gak asing lagi buatku, HM. Tuah Iskandar al-Haj. Sebetulnya, dari buku-buku motivasi terdahulu pun sudah ada kata-kata itu tapi, aku tidak begitu mengendahkannya. Entah kenapa aku suka sekali dengan buku-buku motivasi beliau, Mungkin karena penyampaiannya dan gaya bahasanya yang cukup nyantai… Enak di baca dan gak ngebosenin. Walaupun karya-karya Abdullah Al-Qarni, Arie Ginanjar, Dato’ Dr. Fadilah Kamsah dan yang lainnya tidak kalah hebatnya.

Dalam hidup ini, kita tak lepas dari yang namanya masalah. Walaupun kelihatannya biasa saja dan tidak ada apa-apa, bukan tidak mungkin ianya menyimpan masalah yang terpendam. Jadikan masalah sebagai peluang, jangan jadikan masalah sebagai sebagai masalah ujarnya.

Aku, sebagai seorang pembantu, selalu merasa menghadapi masalah. Bahkan, yang bukan masalah pun aku buat jadi masalah, itulah yang bikin pening kepala, lemas tak bermaya, hidup jadi gak tentram, timbulah rasa malas untuk bekerja.

Apa masalah ku…??? Hmmm… sederhana saja, dengan statusku sebagai pembantu rumah tangga rasa rendah diri, merasa miskin dan tak jarang yang menganggap bodoh kepada statusku sebagai pembantu, itulah masalah ku. Lihatlah dialog ini

”Hallo” Aku mengangkat telpon.
”Assalamualikum…” Ujar suara di seberang.
”Waalikumussalam…” Jawabku.
”Datin ade…???” Tanyanya lagi.
”Datin tak de, dia tengah keluar. Dengan sapa saya bercakap” Aku balik bertanya. Dan dia sebutlah nama dan tujuan dia menelfon, aku pun dah lupa namanya. Dia menanyakan alamat rumah, karena hendak mengantar undangan nikah. Dalam dia bertanya, aku cari-carilah alamat karena, aku sendri tidak hapal alamat rumah. Sedikit tergagap juga suaraku.
”Ni sape ye…??? Tannyanya lagi.
”Saye pembantu rumah datin”
”ooo… Ade sape-sape lagi tak kat rumah…???” Mendengar suara pembantu, langsung saja nada suaranya berubah. Seolah-olah merendahkan statusku.
”Ade, anak die tapi ada dalam bilik air” jawabku, aku mulai kesal juga. Gimana enggak, dia dah mulai gak ramah.
”tak pelah, nanti saye call balik.” Saya menghempaskan gagang telfon, kesal!. Beberapa kali aku mengalami kejadian ini. Dan, lihatlah dialog ini, yang ini lain.

Suatu ketika, aku pergi mencari money changer. Biasanya pergi dengan ibu tapi, karena ibu ada di luar kota aku pergi sendirian. Ada anak majikanku, suruh nemenin gak mau. Walaupun gak tahu di mana money changer terdekat aku nekat pergi aja. Tempat yang ku tuju adalah Jusco Wangsa Maju. Walaupun nyasar-nyasar, akhirnya ketemu juga tuh money changer. Tapi, apes banget… di situ gak bisa transfer uang ke Indonesia. Kemudian petugas tuh menunjukan tempat mengirim uang antarbangsa tepat di depan money changer berkenaan.

Hualah, dalam hati mah takut juga. Aku gak pernah kirim uang dari Bank. Tertulis di situ, CIMB Bank. Akhirnya aku masuk juga, terus nanya-nanya gimana kalo mo kirim uang ke Indonesia. Setelah di kasih penjelasan, aku mengisi formulir Western Union.

Waktu lagi ngisi formulir, petugas bank duduk di depan aku. Umurnya, kurang lebih empat puluh tahun, pake kacamata minus.
”Nak kirim kemane?” Petugas itu bertanya
”Indonesia” Jawabku, tanpa memandang kepada petugas bank. Khusuk membaca satu persatu formulir
”Orang sini ke orang Indonesia” Dia bertanya lagi
”Indonesia” Jawabku lagi.
”Belajar…???” Ulangnya.
”Tak lah, kerja” Aku mulai mengangkat muka melihat wajahnya.
”Kerja kat mane?.” ”Waduh, banyak tanya juga orang ni” ujarku dalam hati. Aku tidak langsung menjawab pertanyaanya. Melanjutkan mengisi formulir, gak lama setelah itu baru jawab pertanyaannya.
”Pembantu rumah” jawabku pantas. Sepertinya, dia tidak percaya dengan jawabanku, kemudian dia mengambil kad pengenalan pembantu yang ku letakan di atas formulir. Membacanya, sesekali ia melihat ke arahku.Semakin aku jawab, semakin banyak soalan yang di ajukan. Terus aku protes
”Kenapa orang selalu pandang rendah pembantu?”
”Bukan pandang rendah” (aku gak ingat pasti dia ngomong apa, yang aku ingat dari gaya awak bicara, cara berpakaian) Mungkin, karena aku pake kerudung kali. Terus, aku tanya soalan lagi.
”Di rumah Encik, ada orang gaji”
”Ada” Jawab dia
”Orang mana…???” Tanyaku lagi
”Orang Solo”. Petugas bank pun tanya, dah berapa lama aku tinggal di Malaysia. Entah perbualan apalagi, aku pun sudah tidak mengingatnya lagi. Kemudian petugas bank memberikan pengarahan lagi, gimana caranya mengambil uang. Dan, tempat-tempat yang bisa di tuju di Indonesia diantaranya, Bank Mandiri, Bank BRI, Kantor Pos dan entah apalagi.

Setelah semuanya siap, aku pun segera beranjak pulang, karena hari sudah semakin petang. Sebaik keluar dari bank, dalam perjalanan pulang, Aku tertanya-tanya dalam hati. ”Pembantu, pembantu begitu rendahkah statusmu…???”

Ada seorang teman ku, sesama pembantu pernah bilang, kalo kerja pembantu ini gak jauh beda ama PSK, Cuma beda sedikit aja. Tapi, aku membantahnya habis-habisan. Dia pun bilang, temen-temennya di kampung gak ada yang tahu kalo di Malaysia sini dia bekerja sebagai pembantu, ”aku gak mau di permalukan gara-gara pekerjaanku.” Waktu aku tanya kenapa gak kasih tahu ama temen-temennya.

Buatku, jadi pembantu tidak memalukan. Cuma yah, itu tadi banyak yang memandang rendah status pembantu, memandang pembantu itu bodoh dan itu, menjadikan aku seorang yang rendah diri. Di sinilah masalahku, dan aku ingin menjadikannya itu sebuah peluang. Caranya…???

Baca buku, tidak hanya buku, apa pun harus kita baca dan yang paling utama adalah membaca Al-qur’an. Karena itu adalah sumber pedoman hidup. Ingat kata temen-temen di rumah dunia, ”Banyak baca banyak tahu, banyak tahu, jangan sok tahu” Itu ku jadikan bekalan. Tidak sekedar baca buku, bacalah alam sekitar terkadang apa yang ku kerjakan pun ku jadikan bahan untuk renungan dan falsafah hidup.

Gombak, 29 Oktober 2007
00:07