Posted in Uncategorized

“Bintang-bintang adalah pengaman bagi langit. Jika bintang mati, maka datanglah pada langit sesuatu yang mengancamnya. Dan aku adalah pengaman bagi sahabatku. Jika aku mati maka datanglah kepada para sahabat sesuatu yang mengancam mereka. Sahabatku adalah pengaman umatku. Jika mereka mati maka datanglah pada umatku sesuatu yang mengancam mereka”.

Itu adalah kata-kata Rasulullah saat menjelang solat Isya. Pada waktu itu, Rasulullah sesekali mendongakan kepalanya kelangit. Betapa penggambaran sahabt di masa Rasulullah itu begitu bermakna nya. Kepada seseorang yang menyukai bintang, mampukah kita menjadi sahabat seperti yang di gambarkan oleh Rasulullah…???
Bumi Allah, 16 feb 2008
15:05
Posted in Uncategorized

Waktu Kecil, waktu Yang Paling Indah

Tak bisa di pungkiri, terkadang kalo mengingat-ingat waktu aku rasa, waktu kecillah yang paling indah. Waktu di mana aku penuh dengan imaginasi, waktu di mana penuh dengan angan-angan, waktu di mana aku ingin menjadi dewasa. Dunia kanak-kanak, yang selalu berangan untuk menjadi dewasa. Tiba waktunya dewasa, terfikir lagi ” ah, ternyata dunia kanak-kanak lebih menggembirakan ”. Kadang, tidak sadar kata-kata itu terucap juga. Itulah manusia, selalu berkeluh kesah, tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah ada. Sabar apabila di uji, bersyukur dengan apa yang di beri, hidup ini indah jika karena Allah.

Bumi Allah, 16 Feb 2008
13:21

Posted in Uncategorized

I’m Not Indon

Indon, kata-kata itu sungguh menyakitkan saat di dengar di telinga dan aku rasa di hati. Gak tahu napa aku gak suka banget kalau orang nyebut aku orang Indon. Btw, aku tahu kata-kata itu dari surat pembaca majalah Gatra, kayaknya yang nulis surat tu gak suka juga ama sebutan Indon. Waktu itu, aku masih di Indonesia dan belum terfikir sama sekali untuk pergi ke Malaysia. Eh, aku di Malaysia gak tahunya dengar juga kata-kata itu. Bahkan, kadang nyebut aku juga orang Indon. Uh, sebel!

Terkadang, kalo lagi duduk-duduk ama anak majikan aku ada juga mereka sebut Indon. Dulu, aku jarang komplain. Kalo sekarang, aku sering protes. Aku bilang ama mereka, kalo orang Indonesia gak suka di sebut Indon. Terus mereka pun kadang kasih alasan, ”panjang sangat lah nak sebut Indonesia, orang Thailand pun di panggil Thai, Bangladesh pun di panggil Bangla, Malaysia pun di panggil Malay”. Ujarnya. Aku tetep ngasih alasan, pokoknya, aku gak suka!. Malah, kadang ada yang sebut Endon, keterlaluan!!!. Kalo ada yang ngomong lagi, aku kadang nyela, ”Eh, di peta, gak ada lho negara Indon. Yang ada negara Indonesia”.

Alasan mereka bisa di terima. Memang, saat menyebut Indonesia terlalu panjang. Dulu pun waktu aku masih sekolah, aku selalu menyingkat Ina untuk Indonesia. Tidak jarang juga yang menyingkat Indo, tanpa N. Kenapa aku gak suka di panggil Indon? Sederhana aja. Mereka, saat menyebut Indon seolah-olah merendahkanaku. Sudah jadi hal yang biasa aku dengar, kalo ada pecah rumah ( rampok rumah ) di Malaysia tidak jarang, orang akan mudahnya menuduh pasti orang Indon. Padahal, gak semuanya kan orang yang pecah rumah tuh orang Indonesia. Orang lain dari Indonesia pun ada yang buat kayak gitu juga. Itulah, kenapa aku gak suka di panggil Indon.

Bumi Allah, 16 Feb 2008
13:36

Posted in Uncategorized

Bahasa Sebagai Identitas

Identitas, identik dengan nama, tempat tanggal lahir dan alamat, atau lebih mudahnya, saat kita menunjukkan KTP ( Kartu Tanda Penduduk). Tapi, bagaimanakah dengan identitas kita saat berada di luar negeri?, jauh di rantau orang. Tentulah sekali pada bahasa kita, bahasa Indonesia.

”Di mana bumi di pijak, di situlah langit di junjung” Mungkin peribahasa itu tepat di gunakan saat kita hidup di negara orang, bukan berarti kita melupakan asal usul kita. Dua tahun hidup di negeri orang, meskipun masih satu rumpun tapi perbedaan itu pasti ada. Terutama dalam hal bahasa. Berada di lingkungan orang Melayu, memaksa saya untuk belajar dan berbicara dengan bahasa Melayu. Awalnya mungkin susah tapi, lama kelamaan bisa juga. Alah bisa karena biasa itulah kata orang.

Karena kebiasaan itulah, terkadang kita lupa dan leka. Tidak di pungkiri, kebanyakan dari pembantu rumah tangga yang ada di Malaysia, terutama yang sudah lama ( tidak memungkiri juga yang masih baru setahun dua tahun di Malaysia). Mereka lebih pandai berbicara dengan logat Melayunya. Mungkin karena kebiasaan itulah yang menjadikan lidah mereka kaku berbicara bahasa Indonesia.

Saat pulang kemarin, saya banyak bertemu dengan mereka yang bekerja di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga. Kebanyakan dari mereka, kaku berbicara bahasa Indonesia. Pun saat saya kembali ke Malaysia, kebanyakan dari mereka memang betul-betul kaku mengucapkan sepatah dua patah kata dalam bahasa Indonesia. Padahal, ada di antara meraka yang belum pun dua tahun berada di Malaysia.

Saya jadi berfikir, di manakah identitas sebuah bangsa kalau seperti ini?. Bukan kita tidak boleh belajar bahasa bangsa lain tapi, apa yang akan terjadi kalo kita belajar bahasa bangsa lain tapi, kita melupakan bahasa ibu kita sendiri…???

28 Zulhijjah 1428/ 08 Januari 2008
22:24