Posted in Uncategorized

Surat Tanggapan Ketua FOKMA

Assalamu’alaikum wr wb

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan jazakillah atas kehadiran dan apresiasinya terhadap acara FOKMA kemarin. Mudah2an menjadi pengaruh yang positif dan penyemangat bagi para muslimah yang hadir … amin.

Berikut adalah tanggapan saya untuk pertanyaan2 dalam email yang dikirimkan mbak Ely Yuliana melalui milis ini.

Sebagai informasi, FOKMA memilki cabang yang masih di wilayah Kuala Lumpur dan
Selangor yaitu, Shah Alam, Sunway, Nilai, Kajang, dan Sungai Wei. Insya Allah kami akan membuka cabang baru di Melaka (maaf, bukan Johor seperti yang mbak Ely tulis).

Anggota FOKMA itu beragam mbak,

ada pekerja kilang, ibu rumah tangga, pelajar dan mahasiswi. Namun, karena sebagian besar anggotanya adalah pekerja kilang, maka kami lebih memfokuskan untuk mengembangkan dan membina potensi mereka. Namun tidak menutup kemungkinan kami juga bisa merangkul para pembantu rumah tangga yang berminat menjadi anggota dan ikut aktif di dalamnya.

Yang menjadi masalah adalah adanya perbedaan kondisi antara pekerja kilang dan pembantu rumah tangga. Dalam artian, tidak semua pembantu rumah tangga bisa aktif dan mendapatkan hari libur seperti mba Ely dan pekerja kilang. Selain itu, jam kerja pembantu rt biasanya terikat dengan majikan mereka yang tentunya tidak sebebas anak kilang dalam beraktivitas (meskipun memang tidak semuanya).

Inilah yang menjadi kendala kami selama ini, tidak semuanya seberuntung mba ely yang bisa ambil cuti sabtu-ahad. Dan tidak semua pembantu rumah tangga yang bisa mengakses internet dengan mudah. Pada akhirnya mereka juga jarang bisa berkumpul pada setiap acara2 kajian yang kami adakan karena tidak diberi cuti sabtu-ahad (kebetulan kajian kami diadakan setiap 1 bln sekali pd hari ahad).

Selain itu, jika kami berkomitmen untuk merangkul para pembantu rumah tangga berikut permasalahannya. Fokma belum memiliki badan advokasi, sehingga apabila FOKMA terkait masalah hukum akan sangat rumit mengatasinya. Kami bukan lembaga resmi pemerintah Malaysia. Jadi, kalau ada masalah, kami lebih menyerahkannya kepada KBRI. Oleh karena itu, kami juga mau tidak mau harus menyediakan badan hukum. Sekarang ini, Fokma baru mengajukan surat legalisasi organisasi Indonesia di Malaysia ke KBRI. Semoga mba elly paham bahwa kami juga berusaha merangkul semua muslimah. Ini juga menjadi masukkan yang berharga buat Fokma ke depan agar lebih aktif merangkul para muslimah pembantu rumah tangga…insya Allah.

Untuk mbak Ely ketahui, pengurus pusat FOKMA sebagian besar adalah ibu rumah tangga dan mahasiswi, karena kami memang lebih mudah berkoordinasi terutama melalui internet atau rapat di hari2 biasa (yg tentunya sulit bagi para pekerja kilang utk melakukannya krn mrk pny sistem cuti tak tentu).

Terkahir, FOKMA akan menyambut dengan tangan terbuka dan senang hati, apabila mbak Ely dan teman2 pembantu rumah tangga lainnya dapat ikut serta dalam setiap kegiatan FOKMA. Sesuai dengan namanya, FOKMA adalah forum komunikasi untuk para muslimah Indonesia di Malaysia. Ini berarti, siapapun yang merupakan muslimah Indonesia yang tinggal di Malaysia adalah bagian dari FOKMA, tidak memandang status sosial ataupun profesi.

Demikian tanggapan dari saya, selaku ketua FOKMA. Untuk segala info tentang FOKMA, silahkan mbak Ely kunjungi web kami di http://www.fokma.blogspot.com atau http://www.fokmadimalaysia.multiply.com dan saya ucapkan sekali lagi selamat bergabung dengan FOKMA.

Wassalamu¢alaikum wr wb

Ketua FOKMA,

Mas Farlina LW (Ellin)

Posted in Uncategorized

Untuk Mas Gola Gong

Beberapa waktu lalu, entah kenapa aku selalu ingat dengan mas GG.Ingat segala tutur katanya, ingat gelagatnya, ingat bagaimana dia mengajar kelas menulis dengan santainya, ingat di mana selalu dia meluangkan waktunya menyiram bunga sebelum mengajar kami. Dan, aku juga ingat ketika pertama kali aku ketemu Mas gola gong. Aku juga pengen banget telfon ke rumahnya. Aku juga ingat, waktu aku pulang tahun kemarin kakek meninggal dunia (ayah dari mas Gong) dan aku tahu begitu terpukulnya mas gong saat itu. Aku hanya sempat mengirimkan sms saja.

Kemarin, aku buka-buka imel dan terbacalah kalau mas Gong sedang sakit. Seingatku, teh Najwa pernah bercerita kalau mas Gong mempunya penyakit kanker otak (aku lupa juga sebenernya, apa kanker otak atau apa?). Mengimbas kepada ingatan-ingatan saya minggu-minggu kemarin. Yang entah kenapa teringat dengannya, dengan mbak Tias, juga anak-anaknya.

Setelah cari info dari temen-temen Rumah Dunia, akhirnya, tahulah aku bahwa Mas Gong mengalami pengapuran di leher dan di rawat di Rumah Sakit Holistik Purwakarta. Bukan sedikit biaya yang di perlukan, dalam seminggu +- Rp.5.000.000. Dan mas gong sudah di rawat selama tiga minggu. Semoga Mas Gong dan keluarga selalu di beri ketabahan untuk menjalani cobaan ini.

Mas Gong tetaplah seorang Gola Gong yang penulis, di saat-saat waktu kritikalnya dalam kesakitan beliau tetap membawa laptopnya. Semoga lekas sembuh mas Gong… Inilah beberapa sms mas Gong yang sempat di kirimkan kepada rekan-rekannya

“Tolong sobat, pengapuran di leher harus intensif. Saya butuh 20 juta lagi untuk biaya 1 bulan. Mungkin bisa pinjam 3 juta sebagai DP. Nanti barter buku terbaru. Saya bawa laptop ke rumah sakit”. 18/03/08, dari teh Pipiet Senja

“Duduk di taman rumah sakit. Gerimis. Leher yang pengapuran di sangga collar neck. Ku hitung sisa usiaku. Semoga Allah menganugerahiku kesehatan lagi. Aku rindu sehatNya. Amiin”. 19/03/08

“Kondisi tangan yang kesemutan akibat pengapuran di leher, membuat saya tidak bisa optimal ngetik”. 21/03/08

Semoga lekas sembuh mas Gong…

Posted in Uncategorized

Launchin FLP Malaysia

Launching FLP Malaysia

Bertempat di Dewan Anwar Mahmud Fakultas Sains Teknologi Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) bertepatan dengan 15 Rabiulawal 1429H/23 Maret 2008 bersamaan dengan Gebyar Kreatifitas Seni Muslimah telah di resmikan Forum Lingkar Pena (FLP) Malaysia. Acara yang di resmikan langsung oleh mantan Ketua Pusat FLP (mbak Helvy Tiana Rosa) berjalan dengan penug meriah. Susunan kepanitiaan sudah pin terbentuk di mana sebagai penasihat adalah ketua FOKMA dan kang Abik (Habiburrahman el-syirazi, penulis paling fenomenal Ayat-Ayat Cinta). Dan di ketuai oleh Alwi Alatas, mahasisa UIA. Hampir 1000 peserta menghadiri acara ini. Dewan Anwar Mahmud di penuhi oleh para muslimah, bukan berarti FLP khusus untuk Muslimah lho. Akhirnya, ku temukan juga yang selama ini kucari.

Semoga dengan berdirinya FLP Malaysia ini dapat melahirkan para penulis Islami yang hebat, berwawasan dan membawa perubahan kepada umat. Para pendiri FLP Malaysia ini sebenarnya bukanlah orang-orang baru dalam dunia kepenulisan. Lihat saja profile mas Alwi Alatas, mahasiswa master UIA ini adalah sastrawan Indonesia. Juga dengan Mbak Rahmawati Latief, beliau dulunya aktif di FLP Makassar bukan tidak mungkin beliau pun seorang penulis yang sudah mahir juga.

Posted in Uncategorized

Surat Kepada Ketua Fokma

Assalamu’alaikum Wr Wb

Yang terhormat ketua Fokma. Perkenalkan, saya seorang pembantu Rumah Tangga. Alhamdulilah, kemarin saya hadir dalam acara Gebyar Kreatifitas Muslimah di Dewan Anwar Mahmud Fakultas Sains UKM. Selamat yah bu, acaranya begitu meriah. Itu dapat mewujudkan bahwa kita pun bisa terlihat dan berbuat baik saat berada di negara orang.

Melalui surat ini, saya ingin menyampaikan suara hati saya kepada ibu. Sedikit pertanyaan, kenapa seolah-olah FOKMA itu ”milik” pekerja Kilang saja. Apa memang dari dulu tidak pernah membuka cabang untuk merambah kepada para pekerja Rumah Tangga?. Kalau di lihat, FOKMA sudah begitu hebat dan sukses menjadikan para pekerja Kilang yang begitu aktif dalam kajian juga kegiatan-kegiatan lainnya. Bahkan, tidak hanya terbatas di Sungai Way saja tetapi sudah merentasi beberapa Negeri di Malaysia. Termasuk di Negeri Sembilan dan beberapa Negeri lainnya dan kalau tidak salah sasaran selanjutnya adalah di Johor.

Ibu ketua, bolehkah kiranya kami,

para pekerja rumah tangga ada kesempatan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan FOKMA?. Berilah kami ruang dan peluang untuk mencari sedikit ilmu, supaya kegiatan kami tidak monoton hanya sebatas mencari Ringgit saja. Pergerakan pekerja rumah tangga sangat terbatas, itu yang menjadikan kami selalu tidak tahu info-info yang ada. Bahkan saya sendiri juga mengetahui FOKMA setelah dua tahun berada di Malasysia. Dan mungkin, lebih banyak lagi para pekerja Rumah Tangga yang tidak mengetahui keberadaan FOKMA. Berbeda sekali dengan para pekerja Kilang, yang kebanyakan dari mereka berpendidikan minimal adalah SMU bahkan, tidak sedikit yang Diploma lihat saja para kandidat Muslimah Award bahkan ada yang D3.

Selama acara berlangsung, saya cukup bangga dan terharu. Bangga, karena di tengah-tengah kesibukan para panitia (terdiri dari para ibu Rumah Tangga juga para Mahasiswa) dan para pekerja Kilang yang bekerja selama 12 jam sehari, masih bisa mengadakan acara yang begitu meriah dan sangat bermanfaat. Tentunya, bukan kerja mudah. Terharu, karena di tengah-tengah para muslimah itu amat sangat sedikit sekali pekerja Rumah Tangga. Kapankah agaknya para pekerja rumah tangga ini merubah imej yang sudah melekat?. Selama ini yang kita dengar, para pekerja Rumah Tangga yang selalu di anaiaya, tidak di bayar gajinya, yang lari dari majikan, yang mencuri harta majikan juga yang menjadi korban jual beli manusia moderen.

Sekian surat saya. Bilamana ada kata-kata yang salah, mohon kiranya maafkan saya. Sekian dan terimkasih

Hormat Saya: Eli Yuliana

Posted in Uncategorized

Surat Buat Mbak HTR (Helvy Tiana Rosa)

Surat Buat Mbak HTR (Helvy Tiana Rosa)

Assalamu’alaikum Wr Wb

Mbak, maaf baru sempat up date blog. Semoga mbak baik-baik aja dan makin produktif lagi dalam tulisannya. Yang belum kenal ama mbak HTR, sedikit aku kasih info tentangnya. Beliau, lahir di Padang pada 2 April 1970 (bener gak mbak?). Dan beliau juga pendiri FLP. FLP didirikan pada tahun 1997, sehingga tahun 2005 pesertanya sudah mencapai 5000 lebih (70% dari padanya adalah muslimah) dan tersebar lebih dari 135 kota termasuk di luar Negeri, diantaranya, Amerika, Mesir, Belanda, Singapura, Hongkong, Singapura dan beberapa negara lainnya. Akan segera menyusul adalah Paris dan yang baru di resmikan adalah FLP Malaysia pada tanggal 23 Maret kemarin. Semoga apa yang mbak lakukan bisa menjadi amal Jariyah, seperti apa yang pak Taufik Ismail bilang, ”FLP adalah hadiah dari Syurga untuk Indonesia.”

Sedikit cerita, pertemuan kemarin di UKM adalah untuk yang ke dua kalinya aku ketemu ama mbak. Pertama kali ketemu, di Rumah Dunia kira-kira tiga tahun yang lalu mungkin mbak dah lupa tapi, aku masih inget karena waktu itu aku sempat foto-foto ama mbak, mas gg, mbak Tias, kang Qijing, kang Firman, teh Najwa dan temen-temn Rumah Dunia yang lain. Kalau kemarin, aku gak sempet foto ama mbak. Sebenernya, bukan gak sempet tapi, karena aku gak ada kamera mau nebeng malu. Maklum, dari sebagaian peserta yang datang pembantunya hanya beberapa orang saja. Lagian, aku lihat mbak juga sibuk banget dah ngelebihin artis eui… di kerubutin kanan kiri. Kalau panitia nggak nyelametin mbak, mungkin sampai sore kali .

Tentang pembantu dari Hongkong yang mbak ceritakan itu, aku dah pernah baca di rumahdunia.net. Waktu baca itu, aku sedih banget dan aku beberapa kali menceritakan itu kepada teman-teman ku. Ternyata, aku beruntung mendapatkan majikan yang baik tapi, ada ketikanya saat kita berada di zon selesa (aman) kita menjadi tidak bisa berfikir karena tidak banyak tantangan. Aku masih inget kata-kata terakhir dalam tulisan mbak, ”kelak akan pulang ke Indonesia bukan sebagai seorang pembantu tapi, sebagai seorang penulis”. Kata-kata mbak untuk pemenang lomba cerpen Hongkong itu menjadi semangat buat aku. Waktu itu, di Malaysia belum ada FLP. Waktu kemarin denger mo ada launching FLP aku seneng banget. Itulah yang aku bela-belain datang ke UKM padahal, aku gak tahu sama sekali dan gak pernah pergi ke UKM (walaupun numpang temen, alhamdulilah sampai juga). Juga tentang Faiz anak mbak, aku pernah denger ceritanya dari teh Najwa sahabat saya ketua FLP Serang.

Kita tahu, acara kemarin seolah-olah khusus hanya untuk pekerja kilang. Lihat saja dari kandidat muslimah award, ke enam-enamnya adalah pekerja kilang. Mungkin, FOKMA harus melebarkan dakwahnya kepada pekerja Rumah Tangga. Dan saya berharap, keberadaan FLP Malaysia tidak hanya terbatas untuk para Mahasiswa saja atau pekerja Kilang saja.