Posted in Uncategorized

Ka Mona, Fotogenik


Nama sebenarnya bukan Mona tapi, Azlina tapi aku dah biasa dengan panggilan ka Mona. Ini menantu majikan ku, Mamy nya Adam Hakimy, isteri dari Bang Hamdy( ya elah, lengkap banget kekeke…). Pertama kali ketemu ka Mona, ka Mona pakai baju merah waku itu, perut ka Mona besar soalnya, Adam masih ada dalam perut. Kalau gak salah mau lebaran Haji tahun 2006, ka Mona inget gak?

Tadinya sih gak akrab gitu, maklum baru kenal gitu, aku sok jaim (ka Mona juga khan…??? :D) Ka Mona jarang ke rumah ibu kecuali hari sabtu ahad jadi, aku gak sering ngobrol ama dia. Waktu dah ngelahirin Adam, ka Mona pernah tinggal satu minggu di rumah Ibu, di situlah aku mulai akrab dengannya. Ada ketikanya sekedar tanya dan mengalirlah sebuah cerita.

Mulai akrab banget, waktu aku tinggal di rumah ka Mona untuk jaga Adam. Ternyata, ka Mona tuh garing abiz! Lebih hebat dari aku. Awal-awal mulai akrab aku pernah tanya ama ka Mona, ”ka Mona waktu kecil suka nangis yah?” ( soalnya badan ka Mona kecil). Terus, pertanyaan kedua setelah ngelihat foto-fotonya adalah, ” Ka Mona waktu kecil sering di foto yah…??? ( soalnya, gak canggung kalau di depan kamera. Ce’ewah…).

Selain itu, ka Mona juga orangnya Fashion able banget. Kalau dandan harus matching, lihat aja foto-foto Adam matching-matching kan…??? Nah, foto yang ini, waktu ka Mona lagi di Jepang. Sebenernya, aku dah lama pengen nulis tentang ka Mona tapi baru sekarang sempatnya. maaf ye kalo ada kate2 yang salah

Posted in Uncategorized

Pembantu Juga Manusia

Pembantu Juga Manusia

Pembantu juga manusia, itulah yang sekarang sering banget bermain di kepala ku. Aku jadi inget sama lagunya Candil Serieus Band, Rocker Juga Manusia. Pembantu juga manusia, punya hati punya rasa, jangan samakan dengan pisau belati. Terimakasih Candil, lagu kamu bisa juga buat inspirasi aku. Cuma minta maaf ya, liriknya aku ubah sedikit bukan bermaksud jadi plagiat. Kalau aku tulis depannya rocker juga kan gak lucu. Wong aku cerita tentang pembantu ko, jadi rocker segala di bawa-bawa :D.

Betul-betul susah meletakan jiwa sebagai pembantu. Adakalanya, bertentangan dengan hati nurani. Walaupun hati berontak, mau tidak mau terkadang aku harus menerima hakikat itu. Tapi, aku juga manusia biasa yang ada ketikanya tak luput dari kesalahan, khilaf dan lupa. Sekian lama aku jadi seorang pembantu ternyata, bukan mudah untuk mendapatkan jiwa pembantu. Dan aku pun baru menyadarinya sekarang-sekarang ini. Terkadang, harus rela menggadaikan perasaannya.

Aku bukannya baik banget atau manusia sempurna. Tapi adakalanya saat aku berbuat salah, itulah kesempatan di mana aku harus memperbaiki diri sendiri. Aku berharap, semoga Allah yang berkuasa membolak-balikan hati manusia memberi kekuatan kepadaku supaya aku mendapatkan jiwa itu.