Posted in Uncategorized

Dari catatan lama…

Dah gak ide untuk nulis, akhirnya aku copy paste aja dari tulisan-tulisan lama aku dari komputer depan. Kirain aku, flash disk gak bisa masuk nyatanya, dasar aku aja yang gak bisa hehehe… Makasih yah Nini…

Posted in Uncategorized

21 April

Kalau bulan April, apalagi setiap tanggal 21 biasanya warga Indonesia banyak yang merayakan hari Kartini. Identik dengan baju kebaya dan sanggul. Kalau di fikir-fikir, kenapa yah Cuma hari Kartini aja yang di rayain…??? Padahal, masih banyak para pejuang-pejuang wanita lain di negara kita. Semisal, Cut Nyak Dien dan lainnya (soalnya, aku juga gak hapal nama-nama pejuang wanita Indonesia). Kalau kata mbak Helvy mah, karena RA Kartini rajin nulis buku harian aja jadi, orang-orang pada tahu sejarah kehidupannya, pahit getirnya dia dalam menghadapi hidup. (oleh itu, marilah kita sama-sama menulis dalam buku harian kita siapa tahu, suatu saat kita pun akan seperti RA Kartini yang senantiasa di ingati. Ceile… Tapi, jangan lupa juga dengan para sahabiyah yang patut kita contohi dan teladani)

Kalau inget RA Kartini dan bulan April, jadi inget waktu SD dulu. Pernah juga ngerayain Kartinian, dengan baju kebayanya, dengan sanggulnya, dengan sendalnya juga tak lupa dengan make up nya… uhhh… sungguh sangat tersiksa dan membuat tertawa kalo mengingatnya.

Tumben-tumbenan, sekolahan ku ngadain Kartinian. Padahal, kaka kelas yang dulu gak pernah. Waktu itu, aku kelas VI SD. Sebelum hari H, guru dah ngingetin kalo tanggal 21 nanti, yang cewe harus pada pake baju kebaya lengak dengan make up. Aku yang tinggal ama Nenek dan Bude ku yang sudah tua bingung. Sapa yang mau dandanin aku…??? Akhirnya, dengan memelas aku minta tolong kakanya temen ku untuk sekalian dandanin aku. Pagi-pagi buta, aku dah pergi ke rumah temen ku. Sementara menunggu temen ku di make up dulu, aku memperhatikannya dengan penuh seksama. Cekap juga kaka temen ku ini, dah kayak dukun pengantin aja (jangan salah, di kampungku yang suka dandanin pengantin, namanya Dukun Pengantin, yang suka nolong orang ngelahirin namanya Dukun Bayi, yang nyunat namanya Dukun Sunat. Kalau yang buat gak bener, itu baru namanya ”Dukun” dalam tanda petik) Dengan susah payah, akhirnya mbak Mut selesai juga dan danin aku. Aku rasa, mood mbak Mut gak begitu baik mungkin dah cape ndandanin adiknya kali.

Make up dah selesai, masalah lain lagi datang. Aku gak punya Sandal! (sandal yang agak bagusan gitu) akhirnya, aku pake sandal Bude aku (pulangnya, jari-jari kaki aku pada luka) oh yah, kebayanya, aku pake kain ama baju nya aku pake Nenek aku punya. Bisa bayangin donk, baju Nenek-nenek gitu! Wakakaka…( kalo gak salah warnanya, kain batik bercorak garis-garis hitam, warna dasarnya pitih khas jawa dengan baju kebaya warne merah bata)

Akhirnya, berjalanlah kami (para Karini-Kartini baru, ceileh…sok banget gitu lho….) soalnya banyak temen, kan yang cewe pada dandan semua. Yang cowo?? Diskriminatif! Mereka, tetep pake baju seragam sekolah. Aku jalan sambil membawa buku, buat nutupin muka gitu. Tengsin juga jalan dengan baju kebaya dan full make up (kalo inget, nyesel juga dalam hal ini soalnya, aku pun gak berani lihat wajah aku di cermin n sama sekali gak lihat penampilan aku)

Sampai aja di sekolah, ternyata kita upacara. Aku sih nyantai-nyantai aza. Tahu-tahu, aku di panggil wali kelas dan beberapa temen-teman ku. Aku di suruh jadi komanda upacara (mungkin karena sebelumnya aku dah pernah jadi Komandan kali yah? Maklum, waktu SD aku agak vokal gitu alias cerewet), Kali ini, betul-betul diskriminatif! Gimana enggak? Petugas upacara, semuanya cewe dari Komandan, Danton, pengibar bendera, pembaca UUD 45, pembaca Pancasila, pembaca Doa, dirgen pokoke cewe semua! Bayangin dong, dengan memakai kebaya, kita harus berjalan tegap (layaknya seorang komandan betul-betul. Lah kalo upacara biasa khan biasanya komandan yang memasuki lapangan lari ini, boro-boro lari jalan tersendat-sendat adalah…) Tapi, alhamdulilah, semuanya berjalan cukup lancar. Walopun setelah upacara aku dan temen-temen cewe yang lain harus berantem ama temen cowo. Katanya, gaya bicara ku waktu jadi komandan di buat-buat padahal, waktu itu aku buat suara yang lebih tinggi aja dari biasanya. Temenku yang berantem waktu itu, sekarang dah betul-betul menjadi seorang anggota brimob (tak pasti sebenernya, antara Abri, Brimob atau Polisi) dan dialah satu-satu nya orang yang sukses di antara teman-teman kamu satu kelas. Yang lainnya, ada yang jadi kuli, sopir, ibu rumah tangga, berdagang dan satu-satunya yang masih menjadi pembantu rumah tangga adalah aku. ”Tuah ayam ada di kaki, tuah manusia sapa yang tahu.”

Bumi Allah, 22 April 2008/15 Rabiulakhir 1429H

Posted in Uncategorized

Perempuan, Pelaku dan Korban

Minggu pertama aku mulai aktif ikut pengajian. Alhamdulilah, bersyukur pada Allah karena telah memudahkan aku jalan untuk menemukan dan mencari ilmu. Tentunya, tidak lupa juga aku ucapkan terimakasih pada Bu Syarifah dan Bu Tria. Bu Syarifah yang nyariin tempatnya dan Bu Trialah tebengan aku (Ya elah… ketahuan banget yah gue nich? Miss nebeng hehehe..)

Tidak begitu susah mencari tempatnya, soalnya aku tinggal turun di stasiun Setiwangsa, dari situ ada Bu Tria dan khodimnya yang dah nungguin, ama Teh Imas sekali ndink. Sampai di rumah Bu Wati pukul empat. Berbarengan kita sampai ada juga seorang akhwat yang menggendong anak, menenteng sebuah bag kertas, memakai baju kurung warna biru, kerudungnya warna kelabu (sandalnya aku lupa dech). Sebaik saja pintu di buka, anak-anak bu Wati sibuk menyapu ruang tamu (Bu Wati cerita, kalo abis pada makan). Terus, kita salam-salaman dech trus cipika-cipiki (apaan tuh..??? cium pipi kanan, cium pipi kiri)

Belum masuk waktu Ashar jadi, kita ngobrol-ngobrol dulu. Maklum, baru pada kenal gitu (kalo mereka sih dah pada kenal, aku aja kali yang baru soalnya, acara itu dah di mulai dari minggu kemarin n minggu kemarin aku gak bisa dateng). Mulanya agak canggung, biasalah… namanya orang baru. Yang menjadi tumpuan tentunya mba yang bawa anak, banyak di tanyain, umur anaknya berapa bulan (biasa khan…??)

Dalam diam-diam, tiba-tiba mbak itu nyeletuk
”Suamiku lari sama perempuan lain” Ujarnya. Kontan, aku sungguh terkejut dengan kata-katanya. Dalam hati, ”ko belum kenal dah cerita hal pribadi” Teh Imas pun langsung menyela, ”Ko ngomong gitu? Gak baik ka”
”Orang iya, bapaknya gila” Jawabnya lagi sambil menengok anaknya. Waktu itu, anaknya tertidur lena. Dia cerita, kalau anaknya suka tidur bahkan, tak jarang saat di mandikan pun dia tertidur padahal, mandinya air dingin, hebat banget tuh anak, umur belum mencecah dua bulan tapi, dah mandi air dingin. . Spontan kami tertawa.
Tanpa kami minta, akhirnya mbak itu menceritakan masalah pribadinya. Cerita, yang bisa di ambil hikmahnya cerita, yang aku rasa banyak manfaatnya. Untuk pelajaran sebagai perempuan, sebagai seorang isteri juga pelajaran bagi hamba Allah.

Waktu dia bercerita, sesekali aku memandang wajahnya dengan teliti. Kalau di lihat-lihat, mungkin umurnya tidak jauh beda dengan aku atau bahkan lebih muda. Tapi, sungguh cobaan yang di laluinya sangat berat menurutku. Dia bercerita tanpa mengalirkan setitik pun air mata (mungkin dah kering dalam sujud-sujud panjangnya). Hanya, tatapannya begitu kosong, wajahnya pun nampak begitu pucat.

Sebelum menikah, mba ini bekerja di sebuah kilang di daerah Nilai Negeri Sembilan. Dia menikah secara siri, di lakukan di Malaysia tanpa mendaftarkan status perkawinan secara resmi(kalau dah gini, susah mau nuntut suaminya). Setelah mbak ini hamil, dia langsung di buang kerja (karena dalam syarat-syarat pekerja kilang di larang untuk hamil) sebenernya, aku gak jelas antara dia di buang kerja, atau melarikan diri. Nyatanya, dia gak punya passport, mbak itu cerita passportnya di tahan Polisi tapi, aku rasa passport itu bukan di tahan ama Polisi mungkin ama agent nya. Mustahil kalau di tahan Polisi mungkin, mbak itu sudah duduk di penjara. Dan status dia sekarang adalah pendatang tanpa izin.

Suaminya meninggalkan mbak itu, setelah satu minggu dia melahirkan anak pertamanya (tidak bertanggung jawab banget kan? Mosok isteri baru ngelahirin di tinggal gitu aja, orang kayak gini, bukan tidak mungkin akan berbuat hal yang sama kepada para wanita-wanita lainnya. Entah-entah, anak dia di kampung dah berderet!). Kalau dah gini, aku jadi mikir terkadang, perempuan itu, pelaku dan korban perbuatan lelaki tidak bertanggung jawab. Gimana enggak, yang jadi korban itu perempuan dan antara sebab lelaki itu meninggalkan isterinya adalah perempuan juga. Aku gak bisa ngebayangin perempuan yang tega menyakiti perempuan lainnya. Bertepuk sebelah tangan, tentunya tidak akan berbunyi.

Tapi, aku salut ama mbak itu. Waktu dia mendengarkan tarbiyah, sesekali di menyusukan anaknya, dalam dia terbata-bata membaca ayat suci Al-Quran sesekali dia menepuk-nepuk anaknya supaya tidak menangis. Perasaanku sungguh terguris menyaksikan hal itu dalam diam, aku menyembunyikan air mataku menangisi kehebatannya, menangisi kenapa sebelum menikah dia tidak berfikir panjang, menangisi kalaulah hal itu terjadi denganku, apakah aku akan sanggup…??? (aku yakin, Allah tidak akan menurunkan cobaan ke atas hamba-Nya yang tidak mampu). Kalau di lihat dari cerita hidupnya, aku yakin mbak ini sudah begitu banyak merasakan asam garam kehidupan, Sudah pernah kerja di Hongkong dan Singapura. Selamat berjuang mbak, jadikanlah Allah sebagai penolong mu.

Inilah wajah para tenaga kerja kita, khususnya para TKW. Mungkin, ini satu di antara berpuluh-puluh ribu kasus seperti ini. Bahkan, mungkin lebih banyak lagi kasus di luar sana yang lebih parah lagi. Terkadang, bukan saja di tipu oleh para agent atau kilangnya. Nyatanya, yang menipu kadang adalah orang terdekat kita sungguh suami yang kejam!

Bumi Allah, 20 April 2008/14 Rabiulakhir 1429H

Posted in Uncategorized

999

Sungguh! Sangat memilukan ketika aku menyaksikan edisi 999 kali ini (17 April 2008). Banyak dari pendatang asing tanpa izin di bangunkan tengah malam, di borgol, kemudian di giring di tengah malam yang gelap dan dingin menuju ke imigrasi. Bagi para pendatang asing, mungkin perasaan mereka bercampur baur antara takut, sedih, geram dan bagaimana menghadapi masa depan setelah ini. Dari wajah-wajah mereka kebanyakan warga Indonesia selebihnya, warga Bangladesh, Mianmar dan Filipina. Operasi ini di lakukan di daerah Damansara Damai dan petaling Jaya Selangor.

Sungguh sedih ketika dua orang perempuan bersembunyi di kolong tempat tidur untuk menghindari sekumpulan pasukan Polisi dan anggota Rela. Tapi, tempat itu tidak begitu besar untuk bersembunyi akhirnya, tertangkaplah dua orang wanita itu salah seorang di antaranya tidak memiliki visa kerja. Dan kebanyakan dari yang di tangkap tidak memiliki visa kerja, menyalahi visa tinggal juga melewati batas waktu yang di tentukan untuk tinggal di Malaysia.

Lebih menyedihkan ketika operasi itu di jalankan di Labuan Sabah. Seorang ibu beserta anaknya yang baru saja berusia empat bulan di tangkap karena tidak memiliki sembarang dokumen. Yang lainnya, para pekerja kontrak. Ya Allah. Apa agaknya yang terfikir di kepala mereka? Adakah mereka sebelum pergi dan bekerja di Malaysia memikirkan bagaimana hendak tinggal di negara orang?, sudahkah mereka melengkapi dokumen perjalanan mereka. Terbayang saat ibu itu menaiki kendaraan rela beserta anaknya yang baru saja berusia empat bulan juga wajah-wajah seorang bapak yang aku yakin niat mereka bekerja adalah untuk menanggung nafkah keluarga. Tapi, kalau sudah di tangkap begitu apa yang boleh mereka buat?

Bumi Allah, 17 April 2008/10 Rabiulakhir 1429H

Posted in Uncategorized

Saling Membutuhkan

Saling Membutuhkan

“Mbak Ana, kenapa sih bisa lama kerja ama Bu Murni?. Apa sih rahasianya?”. Tanya seorang Ibu tetangga majikanku, sewaktu aku masih bekerja di Indonesia. Aku tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Saling membutuhkan bu. Saya butuh uang dan majikan saya membutuhkan tenaga saya”. Jawab ku singkat. Ibu itu tersenyum. Kasihan juga dengan tetangga majikan ku ini, selama aku kerja dengan bu Murni sudah tiga kali Dia bertukar pembantu.

Saling membutuhkan, itulah keterkaitan antara majikan dan pembantu yang harus di terapkan. Jikalau sudah tidak ada lagi saling membutuhkan antara satu dengan yang lain, tentunya hubungan antara keduanya tidak lagi harmonis dan tidak adalagi saling menghargai. Sebaik manapun majikan itu dan sebagus manapun kerja pembantu seolah-olah tidak lagi bermanfaat antara keduanya. Tidak hanya membutuhkan, saling memahami antara pembantu dan majikan juga sangat perlu.

Kalau pembantu sudah tidak mau lagi bekerja dengan majikan, berbicaralah dengan terbuka. Berilah pemahaman kepada majikan. Yakinlah bahwa kejujuran yang kita utarakan meskipun menyakitkan ia akan memberikan kebahagiaan. Mungkin lebih baik dari pada bekerja tapi, dengan terpaksa tiada keikhlasan atau ketulusan.

06/13/2008