Artikel Opini

Ada pesanan dari Mbak Else, dan tulisan-tulisan ini sebagiannya adalah copas dari blogspot. Tapi biar Mbak Else puas, saya posting aja di wordpress satu persatu. Sabar yo, Mbak… Anaznya lagi sok sibuk 🙂 Maaf juga, kalau bahasanya acak kadut :D. Harap maklum…

Dalam dunia blogger, konsep penulisan tidak ada peraturan yang saklek dan khusus. Karena kebanyakan blog, adalah milik pribadi dan perorangan bahkan, sebagian besar adalah blog diari online (seperti milik yang nulis, adalah blog acak-kadut :D) Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan untuk mengetahui sedikit demi sedikit ilmu dari para profesional yang katanya, kalau nulis di blog itu, jangan terlalu panjang. Kenapa? yah karena blog itu bukan buku, bukan surat khabar yang membacanya bisa sambil tiduran atau sambil leyeh-leyeh. Apalagi, kalau ditambah dengan inet yang lemot 😀 bertambahlah kesengsaraan pembaca *blogku berat gak yah loadingnya?* Kata Pak Jonru, Founder Sekolah Menulis Online paling banyak saat kita menulis di blog lebih 10.000 karakter. Tapi, ada juga lho, yang nulis sampai 16.000 karakter, tapi masih dibaca keseluruhannya. Jadi, sekali lagi, aturan itu tidak baku kembali kepada pemilik blog untuk mengemas “Gimana caranya, biar para pembaca nggak lari” saat membaca tulisan yang banyak.

Justify Full
Lho, ko jadi ngomongin itu sih…??? 😀 iya yah, kok aku ke laut.. :D. Ok deh, back to topick sebenernya, aku pengen membahas tentang artikel opini, seperti janjiku beberapa waktu lalu yang akan membahas dunia kejurnalistikan Maaf, telah membuat menunggu lama*jiah gayamu Naz :D* Kenapa aku mengambil tema ini? karena sebagian besar dari para penulis blogger rupanya menjadi penulis artikel opini. Ini kesimpulanku, setelah aku membaca sedikit-demi sedikit pengertian artikel opini.

Artikel opini adalah tulisan, yang selain mengandung fakta-fakta dan data-data yang obyektif, juga sekaligus melakukan analisis, kesimpulan, dan saran-saran yang sifatnya subyektif. Dengan kata lain, artikel opini selalin memuat fakta juga mengandungi opini. Kalau melihat pengertiannya, aku jadi inget para sahabat blogger, Pak Iwan, mbak Elly, mbak Reny, pak Ari, bang Atta, Jeng Sri, Aprilins, Aan, Mas Ivan dan banyak lagi yang namanya tak bisa ku sebutkan. Mereka adalah para penulis artikel opini. Nggak semua tulisannya memang, tapi sebagian besar diantara tulisan-tulisan mereka mengandungi artikel opini seperti yang tersebut di atas.

Untuk media surat khabar, artikel opini biasanya dimasukan di rubrik opini, pendapat, atau gagasan. Biasanya di ruang itu berkumpul tulisan-tulisan seperti; tajuk rencana, pojok, surat pembaca kolom, dan sebagainya. Sedangkan dalam majalah, artikel opini sering diberi nama essai. Istilah lain yang digunakan adalah artikel ilmiah populer. Bedanya, artikel opini gaya penulisan dan penyajiannya tidak boleh kaku atau “kering” seperti halnya dalam penulisan karya ilmiah. Dan, dalam penulisan artikel opini, teknik penulisan tidak tunduk pada tata cara tertentu seperti ketika menulis karya ilmiah.

Adapun data dalam penulisan artikel opini sangat penting peranannya. Ia adalah wakil dari fakta dalam dunia realitas yang dimasukan ke dalam tulisan opini. Karena ia adalah wakil dari realitas, maka ia harus sedapat mungkin menggambarkan dunia nyata secara tepat. Dari datalah kesimpulan bisa diambil. Maka, dari data pula sebuah penafsiran atas realitas bisa dilakukan. Meskipun data merupakan hal penting dalam penulisan artikel opini, namun data bukanlah segala-galanya. Dalam artian, sebuah artikel opini tak harus kaya data, karena halaman opini sebuah koran atau majalah *kalau kita blog yah? :)* bukanlah galeri pameran data.

Data dalam penulisan artikel opini diperolehi melalui dua bagian besar; pertama, data primer, yaitu data yang kita peroleh langsung dari suatu sumber (hasil percakapan atau wawancara); dan kedua, adalah data sekunder, yaitu data yang kita perolehi secara tidak langsung baik dari kepustakaan, data-data statistik, atau kliping-kliping media. Kebanyakan artikel opini yang digunakan adalah data-data sekunder, atau data-data tidak langsung yang sebelumnya sudah tersedia. Sumber data seperti ini umumnya berupa:

1. Catatan-catatan resmi statistik.
2. Jurnal-jurnal ilmiah atau semi ilmiah.
3. Catatan kejadian tertentu yang menjadi isu.
4. Pernyataan tokoh.
5. Kantor berita Internasional.
6. Media komputer (internet).

Penulisan artikel opini cenderung menggunakan data sekunder, ini dikarenakan beberapa hal:

Pertama, Tema artikel opini cenderung mengulas isu yang sedang populer di masyarakat dan banyak diberitakan.
Kedua, Data sekunder umumnya tersedia luas dan mudah diakses sehingga penulis bisa menggunakan data tersebut.
Ketiga, data primer umumnya adalah data yang masih mentah, belum diklarifikasi, dan karenanya kerap belum layak untuk dipublikasi.
Keempat, alasan praktis, mencari data sekunder jauh lebih murah dan mudah dibanding mencari data primer.
Kelima, tulisan opini umumnya berciri reaktif, artinya berupa tanggapan, ulasan, atas kejadian yang sudah atau sedang berlangsung.

Dalam penulisannya, selama ini mengenali lima pola. Kelima pola itu, mengutip Slamet Suseno (1980). jadi, untuk sahabat Blogger yang mengetahui ilmu baru lainnya, tolong share lagi yah di sini 🙂

1. Pola pemecahan topik.
2. Pola masalah dan pemecahannya.
3. Pola kronologi.
4. Pola pendapat.
5. Pola perbandingan.

Mungkin, ini dulu yang dapat aku tuliskan, lebih kurangnya, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Yang benar, itu dari Allah, dan keslahan itu dari diri aku sendiri manusia yang lemah. Diambil dari Modul Kepenulisan, Ilna Center, dirubah seperlunya menggunakan bahasa Anaz yang acak kadut :).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s