Dari Annida, Rumah Dunia, Sampai ke Malaysia

13073505441752705213

Kenangan jadul tahun 2005

Awalnya dari hobi saya yang kerap membaca majalah Annida pada setiap edisinya. Dari situ, saya mengetahui bahwa ada Pustakaloka Rumah Dunia (sekarang Rumah Dunia) yang berada di Serang. Saya yang kebetulan berada di Cilegon, sangat penasaran dengan keberadaan perpustakaan tersebut. Berbekal alamat juga nomor telpon yang tertera di majalah Annida, saya kerap berhubung dengan Mbak Tias. Pun ketika beberapa kali saya bertemu dengan Mas Gong di beberapa event kepenulisan, akhirnya saya dan seorang teman nekat datang ke Serang, untuk melihat perpustakaan tersebut.

Ahad, sore itu di awal tahun 2002. Bersama dengan seorang teman saya menuju Serang, menurut petunjuk Mbak Tias, dari Cilegon kami harus menaiki bus dan turun di Patung. Kemudian menaiki becak dari Patung-Serang, menuju Ciloang, Rumahnya Mas Gol A gong. Setelah sebelumnya saya menelpon Mbak Tias beberapa kali dari sebuah wartel. Kami diantar menuju rumahnya Mas Gol A Gong, awal kedatangan saya ke rumah Mas Gong adalah untuk mengunjungi perpustakaannya, Pustakaloka Rumah Dunia (kini menjadi Rumah Dunia). Tapi tukang becak mengantarkan kami tepat di depan rumah Mas Gol A Gong. Kehadiran kami diterima oleh Mbak Tias. Dengan senyum ramahnya, Mbak Tias menyambut kami. Dan langsung menyuruh kami menuju ke belakang rumah.

13073506811623284578

Rumah Dunia kini yang semakin melebarkan sayapnya

Melalui pintu samping, kami menjinjing sandal masing-masing menuju pendopo belakang. Akhirnya, saya bisa melihat dengan kepala sendiri apa yang ingin saya lihat, Pustakaloka Rumah Dunia. Di pendopo belakang, sudah berkumpul beberapa teman-teman lain. Seingat saya, teman-teman yang berada di situ dan sedang berdiskusi adalah, Ibnu, Najwa, Endang Rukmana, Adkhilni, Krisna, Mahdi, Muhzen Den, Kang Kizing juga saya dan seorang teman saya, Mutmainah. Sementara tak jauh dari pendopo, Kang Firman sedang duduk di kursi dengan sebuah gitarnya, Mas Gong dan Mas Jaiz terlihat sedang asyik berbincang.

1307350780766411557

Koperasi warga, dulu koperasi ini belum ada

Barulah saya tahu, kalau petang itu mereka sedang membicarakan tentang organisasi FLP (Forum Lingkar Pena) Serang. Sore itu, terbentuklah FLP di wilayah Serang, dengan Ibnu sebagai ketuanya. Dan Mas Jaiz, ketua sementara karena mengemban tugas dari majalah Annida memegang data beberapa anggota FLP yang terdaftar di majalah tersebut dan berdomisili di wilayah Serang dan sekitarnya. Saat petang menjelang, kami bersurai kembali pulang ke tempat masing-masing.

Karena baru pertama kali ke rumah dunia, saya ikut saja mereka berjalan, beriringan kami keluar dari pendopo sederhana rumah dunia. Ternyata, Mutmainah sudah kenal dengan Najwa dan itu memudahkan komunikasi kami. Najwa, tinggal di Ciceri, ia ngekos di sana sebagai salah seorang mahasiswa STAIN SMHB Serang (sekarang IAIN) Bersama dengan Mutmainah, saya mengikuti langkah Najwa dan Ibnu (yang juga sama satu kuliah dengan Najwa) Ternyata, dari Ciloang ke Ciceri mereka jalan kaki. Saya ingat, tempatnya dekat jadi kami ngekor aja. Dan ternyata oh ternyata, ia melewati beberapa kampung, termasuk tanah pekuburan! Edyan, batin saya. Ini pada nekat amat!

1307350884252650026

Writing camp tahun 2005 yang pertama kali diadakan oleh angkatan menulis kelima

Dan dari situlah permulaan kami mengembara sebuah ilmu di Rumah Dunia. Minggu-minggu seterusnya, saya kerap kali berkunjung ke rumah dunia. Waktu itu saya masih kelas dua SMU, pun dengan Endang dan Adkhilni, mereka semua masih di bangku SMU (SMU 1 Serang), hanya kami beda sekolah. Sementara Kang Kizing sudah bekerja di harian Radar Banten, Kang Firman kuliah di Bandung. Najwa dan Ibnu di IAIN, Krisna di SMEA 17 Serang, Mutmainah SMU Kramatwatu, tapi ia tak selalu datang. Akhirnya, lama kelamaan sayalah siswa paling jauh yang datang ke Serang.

Adalah kenangan indah, ketika kehadiran saya ke Serang ada kalanya dengan uang pas-pasan. Pas sampai di Serang, uang saya habis. Ibnu, yang kebetulan waktu itu menjadi volunteer pertama di rumah dunia menjadi todongan pertama untuk kami pinjamkan uang (saya dan Najwa) Pernah, suatu sore setelah diskusi dengan penulis (seingat saya Syamsa Hawa dan Adzimatunsiregar, anaknya Teh Pipiet) saya kehabisan ongkos. Pun dengan Najwa, ia tak memiliki ongkos ke Ciceri. Karena sudah malam, kami tak lagi berjalan melewati berbagai kampung. Akhirnya kami meminjam uang ke Ibnu, Rp.5000. Dan minggu depannya ketika uang itu dikembalikan, ia menolak. Terimakasih Ibnu…

Keberadaan kami di Rumah Dunia ketika itu, hampir semua dari kalangan ekonomi rendah. Juga sebagian besar adalah pelajar yang masih ngap-ngapan menanggung biaya hidup. Beruntung, ketika saya sudah bekerja, meskipun ia harus memutar otak karena gaji saya sebagai PRT ketika itu tak seberapa.

Waktu berlalu, saya adalah angkatan pertama di Rumah Dunia, tapi menjadi siswa pertama tak menjadikan saya orang yang mengutamakan menulis. Saya betul-betul menjadi siswa yang ndableg, nggak pernah nulis atau menyelesaikan tugas apapun yang diberikan oleh Mas Gong. Padahal semuanya gratis, direvisi gratis oleh Mas Gong. Pun saat Rumah dunia mengadakan antologi pertama, saya tidak mengikutinya. Kacamata Sidik, itulah antologi pertama temen-temen Rumah Dunia. Rasanya, sia-sia saja kepergian saya ke Rumah Dunia, sia-sia juga pengorbanan yang saya lakukan. Baik waktu maupun uang.

Saya vakum, tak lagi datang dan berkunjung ke Rumah Dunia.

Barulah ketika ada angkatan ke lima Rumah Dunia membuka kelasnya, saya kembali mengikutinya. kali ini dengan syarat membawa sebuah tulisan juga buku yang dimasukan dalam sebuah map. Dan lagi-lagi, saya membuat tulisan yang asal tulis dan asal jadi 😦 Saya betul-netul tidak totalitas mengamalkan ilmu yang saya perolehi. Padahal di rumah dunia, saya diajari nulis fiksi, non fiksi, berita, featrure bahkan skenario. Duh, malangnya nasib ketika itu. Tak menjadi siswa yang melek ilmu.

Dari angkatan kelima juga, saya mengenali Wanja, seorang gadis nekat dari Palembang yang rela mengambil cuti kuliah hanya untuk mengikuti kelas menulis di Rumah Dunia. Ia mahasiswa UNSRI. Dari Wanja juga, akhirnya saya mendapatkan tawaran kerja di Malaysia karena istri Omnya orang Malaysia.

Maka berpetualanglah saya ke negri jiran, bergulat dengan pekerjaan rumah tangga yang kadang membuat saya jenuh. Setahun pertama, saya tidak diperbolehkan ke mana-mana. Perasaan bosan selalu melanda. Beruntung ketika saya boleh menggunakan internet, dari internet saya mengenali beberapa teman juga mengenal blog dan akhirnya, saya mulai berani menulis untuk di publish, meskipun ia hanya sebatas blog. Yah, satu demi satu saya masih mengingat apa yang telah diajarkan oleh Mas Gong. Ternyata, tidak ada yang sia-sia pada sebuah ilmu. Dan kenyataan yang saya dapat, menulis bukanlah sebanyak dan sejauh mana kita belajar, tapi sejauh mana kita berani untuk menulis.

Rumah Dunia, membuka mata saya bahwa belajar tidak sebatas di bangku kuliahan, tapi juga pada bangku kehidupan. Itulah semangat yang selalu didengungkan oleh Mas Gong kepada kami semua, para pelajarnya. Dan ketika tahun lalu saya pulang, saya melihat begitu banyak perubahan di sana, selain tempat juga alumni-alumninya. Ibnu, yang dulu saya pinjam uangnya lima ribu, sekarang ia telah menjadi seorang ayah dan menyelesaikan S2nya di Leiden. Kang Firman, telah menyelesaikan S2nya di bandung dan menjadi dosen sastra di UNTIRTA (Universitas Tirtayasa), Endang yang pernah menyabet juara Anugerah Unicef Award for Indonesian Young Writers 2004, novelnya sudah beberapa kali nyangkut di bentang Pustaka dan Gramedia, Najwa dengan beberapa karyanya, Adkhilni yang telah menjadi diplomat, kang Kizing yang masih setia menjadi wartawan di Radar Banten, juga kesuksesan-kesuksesan sahabat-sahabat lainnya.

Tak hanya Mas Gong yang kerap mengajari kami, Mas Toto St Radik, penyair banten juga selalu mengajari kami tentang puisi. Kalau sudah melihat beliau tampil membaca puisi, kadang saya dibuai iri 😦 terimakasih buat ilmu dan penglamannya buat para pendiri Rumah Dunia, termasuk almarhum Pak Rys revolta.

13073512511086775513

Pulang tahun lalu sempat ikutan workshop teater Ode Kampung 4

1307351336648917317

Ada Mas Toto juga, penyair Banten

13073514941331193777

nampang bareng Pak Iman Sholeh, seru kasih teori dan praktek teaternya 🙂


Advertisements

2 thoughts on “Dari Annida, Rumah Dunia, Sampai ke Malaysia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s