Posted in Tulisanku

Kenangan, Seharga Tiga Ratus Rupiah

Kapan terakhir pulang kampung? Tahun 2010 lalu. Lama banget, yah? Yah, beginilah nasib perantau hehehe, nggak harus menyesali nasib dong? Namanya juga hidup 🙂

Berhubung saya ini rantauannya dua kali #lho, iyah, dua kali. Jadi, setelah merantau di Malaysia, saya harus pulang ke dua tempat. Pertama pulang ke Cilegon, tempat rantauan saya. Kedua, pulang ke kampung halaman. Kampung di mana saya kecil dulu. Dan terakhir pulang, itu tahun 2010 lalu.

Continue reading “Kenangan, Seharga Tiga Ratus Rupiah”

Posted in Uncategorized

[#15HariNgeblogFF] [2] Dag Dig Dug

Terlalu sederhana, saat aku bilang bahwa perasaan ini biasa saja. Tapi tak bisa saya pungkiri juga, kalau saya memang biasa-biasa saja. Meski masih ada cemas yang mendera juga gelisah yang melanda. Ah, entah apa aku menyebutnya.

Sudah jam tujuh pagi, tapi ruangan masih sunyi. Ke mana pasukan tujuh kurcaci yang selalu memenuhi ruangan ini? Aku membatin lesu.

Lagi-lagi, aku melirik jam tangan, yang letaknya tak berubah di sekitar pergelangan tangan. Jam tujuh lima belas menit, masih saja sepi…

Kali ini, cemas mulai melanda. Perasaanku, dag dig dug tentu saja, “Ke mana tujuh kurcaciku?” Aku mulai membatin lesu.

“Bu Lisa, Bu Lisa!,” Dari depan pintu gerbang Mang Komar berlari tergopoh-gopoh mendekatiku.

“Ada apa, Mang Komar?”Tiba saja Mang Komar di depanku, langsung kutanya tanpa jeda.

“Begini, Bu,” Mang Komar masih terengah-engah. “Saya mendapat kabar kalau…”, Lagi-lagi, Mang Komar mengatur nafasnya. Aku dibuat gemas oleh tindakannya.

“Ada apa, Mang Komar?” Cecarku. Mendadak, perasaanku kelu. Aku takut, kabar yang dibawa oleh Mang Komar tentang tujuh kurcaciku.

“Anak-anak, Bu. Anak-anak dikabarkan…”

“Dikabarkan kenapa, Mang?” Aku langsung memburu Tanya, berada lebih dekat ke depang mang Komar, takut kalau setiap inci kalimatnya tak mampu kudengar dari mulutnya. Ah, jantungku semakin berdegup kencang.

“Tenang dulu, Bu Lisa. Saya belum habis bicara,” Mang Komar sudah terlihat lebih tenang. Aku menjauhkan diri sedikit dari Mang Komar.

“Pagi ini, anak-anak tidak datang ke kelas karena van yang ddinaikii anak-anak  dikabarkan mengalami kecelakaan.” Jelas Mang Komar.

“Kecelakaan?” Aku bertanya, dalam gumaman. “

“Iya, Bu. Dan dikabarkan salah seorang dari mereka meninggal.”

“Oh, God!” Aku terpaku, detak jantungku semakin memacu. Masih terngiang suara mungil Lily pagi tadi yang menelponnya kalau ia begitu gembira akan piknik pagi ini.

“Siapa yang meniggal, Mang?” Akhirnya soalan itu aku lontarkan juga.

“Lily, Bu. Van dikabarkan mengalami kecelakaan pada pukul enam tiga puluh pagi.” Lagi, Mang Komar menjelaskan.

“Enam tiga puluh? Jadi, jadi siapa yang menelponku? Suara mungil itu…?” Aku menatap Mang Komar Nanar. Sementara Mang Komar mematung tanpa tahu apa yang diucapkan olehku.

Keterangan, 326 kata tanpa judul

Posted in Uncategorized

FF Senja di Mata Ayah

“Yah, Risa berangkat dulu.”

“Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Pulang cepat ya…”

Sekilas, aku menengok Ayah. Menatap wajahnya… Ah, wajah tua itu. Wajah senja yang sudah dikelilingi keriput tua.

“Kenapa, Yah?. “

“Usahakanlah kamu bisa pulang lebih awal.”

“Tapi kan Risa selalu sampai rumah setelah maghrib, Yah.”

“Kali ini, pulanglah lebih awal. Ada perkara yang ingin Ayah bicarakan.”

“Baik, Yah. Risa usahakan.” Setelah mencium tangan Ayah, aku segera berlalu meninggalkan Ayah. Suara tangis Nala mengejutkan Ayah, untuk segera berbalik arah ke dalam rumah. Ah, Ayah sampai kapan engkau menjadi Ibu rumah tangga? Menjaga ke dua cucumu setipa hari?.

**

Aku buru-buru keluar dari pabrik. Setelah mendapat izin pulang lebih awal dari mandorku. Sampai di depan pintu, aku dikejutkan dengan riuh rendah suara ke dua keponakanku dari dalam rumah. Juga, beberapa sandal dan sepatu yang berjejer di depan pintu tanpa kukenali.

Aku melangkah masuk. Melihat sekilas ke ruang tamu yang tak berapa besar. Owh, perempuan itu, perempuan yang berbulan-bulan tak terdengar kabarnya. Kini ia kembali muncul…

“Nak, duduklah…” Suara Ayah menyambutku. Sementara Nala dan adiknya bergayut manja dipangkuan Ibunya.

“Adikmu akan menikah lagi.” Suara Ayah perlahan, terdengar sendu.

Aku melirik adikku, yang duduk bersebelahan dengan lelaki yang tak kukenali. Juga beberapa orang, yang aku juga tak mengenalinya. Diam, melihat penampilannya ah, lagi-lagi aku harus terpukul. Lagi-lagi, aku harus kecewa dengan pernikahannya. Bukan, bukan karena ia akan melangkahiku lagi, tapi karena setiap kali akan menikah sudah ada janin di dalam perutnya

Repost tulisan lama , yang diikutkan lomba FF (239 kata) untuk pertama kalinya. N dapet juara favorit #nyengirrr.. Lah sekarang malah gak bisa bikin FF 😦