[#15HariNgeblogFF] [2] Dag Dig Dug

Terlalu sederhana, saat aku bilang bahwa perasaan ini biasa saja. Tapi tak bisa saya pungkiri juga, kalau saya memang biasa-biasa saja. Meski masih ada cemas yang mendera juga gelisah yang melanda. Ah, entah apa aku menyebutnya.

Sudah jam tujuh pagi, tapi ruangan masih sunyi. Ke mana pasukan tujuh kurcaci yang selalu memenuhi ruangan ini? Aku membatin lesu.

Lagi-lagi, aku melirik jam tangan, yang letaknya tak berubah di sekitar pergelangan tangan. Jam tujuh lima belas menit, masih saja sepi…

Kali ini, cemas mulai melanda. Perasaanku, dag dig dug tentu saja, “Ke mana tujuh kurcaciku?” Aku mulai membatin lesu.

“Bu Lisa, Bu Lisa!,” Dari depan pintu gerbang Mang Komar berlari tergopoh-gopoh mendekatiku.

“Ada apa, Mang Komar?”Tiba saja Mang Komar di depanku, langsung kutanya tanpa jeda.

“Begini, Bu,” Mang Komar masih terengah-engah. “Saya mendapat kabar kalau…”, Lagi-lagi, Mang Komar mengatur nafasnya. Aku dibuat gemas oleh tindakannya.

“Ada apa, Mang Komar?” Cecarku. Mendadak, perasaanku kelu. Aku takut, kabar yang dibawa oleh Mang Komar tentang tujuh kurcaciku.

“Anak-anak, Bu. Anak-anak dikabarkan…”

“Dikabarkan kenapa, Mang?” Aku langsung memburu Tanya, berada lebih dekat ke depang mang Komar, takut kalau setiap inci kalimatnya tak mampu kudengar dari mulutnya. Ah, jantungku semakin berdegup kencang.

“Tenang dulu, Bu Lisa. Saya belum habis bicara,” Mang Komar sudah terlihat lebih tenang. Aku menjauhkan diri sedikit dari Mang Komar.

“Pagi ini, anak-anak tidak datang ke kelas karena van yang ddinaikii anak-anak  dikabarkan mengalami kecelakaan.” Jelas Mang Komar.

“Kecelakaan?” Aku bertanya, dalam gumaman. “

“Iya, Bu. Dan dikabarkan salah seorang dari mereka meninggal.”

“Oh, God!” Aku terpaku, detak jantungku semakin memacu. Masih terngiang suara mungil Lily pagi tadi yang menelponnya kalau ia begitu gembira akan piknik pagi ini.

“Siapa yang meniggal, Mang?” Akhirnya soalan itu aku lontarkan juga.

“Lily, Bu. Van dikabarkan mengalami kecelakaan pada pukul enam tiga puluh pagi.” Lagi, Mang Komar menjelaskan.

“Enam tiga puluh? Jadi, jadi siapa yang menelponku? Suara mungil itu…?” Aku menatap Mang Komar Nanar. Sementara Mang Komar mematung tanpa tahu apa yang diucapkan olehku.

Keterangan, 326 kata tanpa judul

Advertisements

8 thoughts on “[#15HariNgeblogFF] [2] Dag Dig Dug

  1. Inge says:

    hantu yg menelpon ya 😀

    sekedar koreksi, kalau kata tuju diatas yg dimaksud adalah angka spt jam tuju pagi dan tuju kurcaci, maka ejaan yang benar harusnya tujuh 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s