Kenangan, Seharga Tiga Ratus Rupiah

Kapan terakhir pulang kampung? Tahun 2010 lalu. Lama banget, yah? Yah, beginilah nasib perantau hehehe, nggak harus menyesali nasib dong? Namanya juga hidup πŸ™‚

Berhubung saya ini rantauannya dua kali #lho, iyah, dua kali. Jadi, setelah merantau di Malaysia, saya harus pulang ke dua tempat. Pertama pulang ke Cilegon, tempat rantauan saya. Kedua, pulang ke kampung halaman. Kampung di mana saya kecil dulu. Dan terakhir pulang, itu tahun 2010 lalu.

Pulang ke kampung halaman, ada banyak kenangan di waktu kecil. Temen-temen yang kebanyakan sudah menikah juga tempat-tempat di mana saya dulu sering bermain. Namanya di kampung, dulu saya sering banget mainnya di kali, ke sawah, ke hutan untuk mencari kayu juga kadang ke gunung. Gunung kecil, sih πŸ™‚ Saya jarang banget main ke tempat pariwisata, nggak pernah ke laut dan nggak pernah lihat laut waktu kecil. Kampung saya itu jauh banget dari laut πŸ™‚

Jadi, tempat-tempat pariwisata itu mahal banget buat saya.

Alkisah, saya mempunyai seorang teman yang rumahnya berdekatan. Temen saya itu mondok di sebuah pesantren. Kadang, kalau temen saya pulang pas mau ke pesantren lagi saya ikut menemaninya sampai di pesantren. Pesantren itu lumayan jauh dari kampung saya. Sekali naik angkot, setelah itu masih dilanjutkan dengan jalan kaki. Nah, selama berjalan kaki itulah saya melewati sebuah Taman Pariwisata pemandian.

Saya sering mendengar, di dalam situ ada sebuah kolam renang. Pikiran saya tentu saja berkelana. Saya tak pernah melihat sebuah kolam renang. Setiap kali melewati tempat tersebut, saya selalu membayangkan bentuk kolam renang. Selama itu, saya hanya berenang di kali, tak pernah sekalipun saya melihat ujud dari kolam renang itu sendiri, selain di buku-buku yang pernah saya lihat.
Setiap mengantar teman, selalu jatuh pada hari minggu. Di hari minggu itulah, hiruk pikuk keramaian kolam renang selalu terdengar. Gelak tawa, juga kecipak air terdengar begitu indah di telinga saya. Saya jadi semakin penasaran. Mengintip dari celah-celah pagar, hanya sedikit saja yang mampu saya lihat, mereka, anak-anak kecil seusia saya sedang berbahagia dengan keluarganya menghabiskan akhir pekan.
Betapa inginnya saya ke kolam renang tersebut, tapi sayatidak mungkin meminta uang kepada nenek saya sebesar Rp. 300 hanya untuk datang ke kolam renang. Saya cukup tahu diri waktu itu, tinggal bersama nenek dan bude sementara kedua orang tua saya ada di rantau. Sampailah usia saya 13 tahun, kemudian merantau ke kota, saya tak pernah sekalipun menjejakan kaki ke kolam renang tersebut. Bahkan saat berkali-kali pulang ke kampung halaman pun saya tak pernah ke sana.

Pemandangan di tepi kolam

Dan akhirnya, tahun lalu saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kolam renang tersebut. Kunjungan saya ke sana tak disengaja. Hari itu, saya pergi ke pasar dengan Kakak sepupu beserta istrinya. Awalnya, saya diajak pulang bareng, tapi saya menolak, karena diam-diam saya akan berkunjung ke kolam renang yang sejak berpuluh tahun lalu saya ingin sekali mengunjunginya.
“Mbak, ayo pulang bareng?” Ajak Kakak sepupu saya.
“Nggak mau, ah. Udah sana pulang duluan aja.”
“Udah, Β sih, pulang bareng aja.”
“Yeee… Saya nggak mau. Udah gih sono, pulang duluan.”
“Bener nih? Nggak pake nyasar, Β yah?” Ledek Kakak sepupu saya.
Jiyah… Β Mentang-mentang jarang pulang ke kampung halaman, saya sering diledekin nyasar. Padahal, saya, tuh, yah masih inget jelas seluk beluk jalan di kampung. Setelah sepupuku beredar dengan motornya, saya berjalan menyusuri pasar Moga, terus menuju ke utara. Saya menuju tempat yang dulu sering kuintai. Yah, sejak lama aku memendam keinginan untuk masuk ke sana…

Kolamnya biasa-biasa saja

Ternyata, masuk ke sana tak lagi membayar Rp.300. Tapi, kini menjadi Rp.5000. Saya merogoh tas karung goni pemberian Mbak Reny, mengeluarkan uang selembaran lima ribu, memberikannya kepada penjaga loket. Kemudian, masuk ke dalamnya. Sunyi… tak ada keriangan ataupun canda seperti yang saya dengar beberapa puluhan tahun lalu. Hanya ada beberapa orang. Ini bukan hari libur, mungkin ini yang mengakibatkan tidak banyak orang berkunjung.

Harga tiket masuk πŸ™‚ bukan lagi Rp. 300 tapi Rp. 5000

Tak banyak yang saya lakukan, hanya mengambil beberapa gambar. Sadar tak sadar, saya mengeluarkan air mata ketika mengarahkan kamera ke berbagai objek. Ada yang mengusik hati kecil saya. Dulu, dulu sekali betapa inginnya saya masuk ke tempat itu, tapi setelah saya masuk ke dalamnya, ternyata ia biasa-biasa saja. Bahkan, saya sudah berkunjung ke tempat-tempat yang lebih bagus dari itu.
Ah, Allah ternyata memberikan lebih, dari apa yang saya mau. Hanya saja, saya tidak menyadarinya. Saya buru-buru keluar dari dalam kolam renang, menyusut air mata yang menggenang…
Adakalanya, kita perlu berdamai dengan masa lalu. Masa lalu, waktu yang paling jauh yang tak akan mampu kembali kutemu. Tapi, saya tak harus melupakan masa lalu, karena masa lalulah, yang telah membentukku.
Mengunjungi kolam renang ini, betul-betul memorable buat saya. Betapa inginnya dulu saya ke sana, ke tempat yang sangat sederhana, tapi meski ia hanya membayar Rp. 300 rupaih, saya tak bisa memasukinya. Β Tulisan ini saya ikutkan di acaraΒ Moleskine Gievaway, yang diselenggarakan olehΒ SiTUkangNyampah.
Advertisements

12 thoughts on “Kenangan, Seharga Tiga Ratus Rupiah

  1. Rio says:

    wah mbak anas punya wordpress juga toh kok baru di kasi tau saya hehe
    trimakasih mbak mau follow blog saya,,,

  2. elfarizi says:

    Hari gini udah emang udah gak ada mbak tempat main yang tiketnya 300 rupiah hehe πŸ™‚
    pengalaman seru πŸ™‚

    salam kenal, mbak πŸ™‚

  3. Adi says:

    eehh punya wordpress juga to dirimu,?
    Petualangan masa kecil mu hebat ya sampai meneroka hutan pulak he..He..he…

    kolam renang nya asik tuh buat keburan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s