Cinta di Perbatasan Thailand

Terkadang, kalau rajin, saya akan belajar membuat cerpen. Meski bukan untuk dikirim di media massa, tapi ada salah satu cerpen saya “Serpihan-Serpihan Kasih” muncul di salah satu tabloid Suara TKI juga dibukukan di antalogi Gilaova 5 di Rumah Dunia dan menjadi salah satu cerpen terbaik RRI 2011. Ide cerpen itu berasal dari kisah nyata yang saya andaikan bagaimana kalau salah satu tokoh yang ada kelak meninggal dunia. Dan ketika saya mendapat kabar bahwa tokoh yang saya andaikan meninggal itu betul-betul meninggal, tak urung saya menangis.

Uniknya, saya paling sulit menuliskan sebuah cerpen dengan happy ending.”Cerpen ini tragis sekali, Mbak Anaz. Idenya dari mana?” Suatu hari, ucap salah seorang penyiar RRI saat membacakan cerpen “Nama yang Tersisa” Beberapa cerpen yang saya buat dengan serius, semuanya berasal dari kisah nyata yang saya temui kemudian saya bolak-balik. Di mana seorang muda yang saya temui, saya ubah menjadi seorang ibu atau sebaliknya.

Saya tahu, saya bukanlah seorang penulis, tapi saya tetap belajar untuk menulis, apalagi dalam bentuk fiksi. Maka tak heran, kerap ketika berjalan ada banyak bermunculan ide di kepala saya. Seperti saat ikut mudik ke Kelantan kemarin, saat melihat rumah-rumah panggung di tepi jalan di mana di rumah tersebut disediakan berjejer-jejer pelita, terbersit di kepala saya untuk menulis sebuah cerita.

“Pelita Terakhir” itu adalah judul yang saya dapat. Melihat pelita yang berbaris rapih di depan rumah, saya tak pernah tahu penghuninya apakah mereka bahagia saat hari raya tiba, atau berduka menunggu anak cucunya yang tak kunjung tiba. Maka saya andaikan kalau di dalam rumah tersebut ada dua orang pasangan jompo yang menunggu kehadiran anak-anaknya di saat idul fitri tiba. Sampai pelita terakhir tak menyala, tak seorangpun yang sampai ke rumahnya dan ending dari cerita tersebut adalah kepergian salah seorang penghuni rumah. Tentunya, semua draft tersebut hanya baru ada di kepala saya.

Itu ide cerita perjalanan hari senin. Rabu, 22 agustus saya ikut menyebrang ke Tak Bai perbatasan Malaysia-Thailand mengikuti ayah dari majikan perempuan saya. Menaiki boat, melintasi sungai bersama dengan majikan saya, ayahnya, anak2nya juga beberapa saudara lainnya. Kita menuju sebuah pasar, konon, pasar tersebut adalah pasar gelap di mana banyak dijual belikan barang-barang Thailand kemudian dibawa ke Malaysia tanpa cukai (pajak) pun sebaliknya. Di Tak Bai tersebut, mata uangnya menggunakan RM.

Tak ada dermaga

Tepian dermaga

Menepikan boat

menepikan boat

Jadi hari itu, saya mendapatkan ide cerpen “Cinta di Perbatasan Thailand” tak bisa saya tuliskan lebih banyak tentang jalan cerita, karena ia akan meminta banyak ruang di sini. Intinya, lagi-lagi ending tersebut salah satu tokoh meninggal. Dan dari meninggalnya salah satuย  tokoh, memberikan kesadaran pada salah satu tokoh lainnya akan keinsyafan tentang orang tua yang ditinggalkannya di kampung halaman.

Maka pada kamis 23 agustus 2012 saat perjalanan Kelantan-Perlis malam hari, saat majikan perempuan saya menangis sesenggukan mendapat telphon dari adiknya, mengabarkan kalau ibundanya meninggal saya menyimpan air mata, perasaan saya datar. Rabu lalu, saya masih sempat mengurut ibundanya, rabu lalu saya masih melihatnya bahkan kamis pagi, saya pun masih melihatnya.

Jum’at, 24 agustus 2012 dari Perlis, kami segera meluncur kembali ke Kelantan. Menjelang tengah hari kami sampai di Kelantan. Ah, Ibunda majikan saya yang saya panggil Mak Cik, itu sudah terbungkus rapih dengan kain kafan, hanya tinggal wajahnya yang belum tertutupi, menunggu kami anaknya, menantu juga cucu-cucunya sedang yang lainnya sudah kumpul sejak malam juga paginya.

Saat diberi kesempatan untuk mencium kedua pipi dan keningnya, saya teringat saat harus mencium wajah jasad bapak saya juga, saya teringat akan ibu saya di rumah. Ah, pikiran saya terbata-bata memahami antara imajinasi cerpen juga sebuah ending cerita, cerita fiksi juga sebuah cerita kehidupan nyata…

Advertisements

34 thoughts on “Cinta di Perbatasan Thailand

  1. Raffaell says:

    Hahaha, ngga pernah kebayang mau nulis cerpen ๐Ÿ˜› pengenya yang panjang, kalo pendek kayaknya ngga sampe, tapi nulis panjang dah suka bosen ditengah jalan

  2. tuaffi says:

    semoga mak cik bahagia di Pangkuan-Nya.
    Pengen nulis cerpen juga, dulu SMP sempat banyak yang sudah ditulis, sekarang malah gag pernah. Hikz..

  3. 2PAI says:

    :-0 aaku mau…(liburan ke Thailand.).
    Haduuhh mbak ini kok sukanya yang tragis-tragis, wekekekek terus semangat nulis mbak. Saya juga lagi nulis buku. Sekalian Minta do’a ya semoga bisa segera terbit.

  4. SanG BaYAnG says:

    Fiksi dan kehidupan kadang berkaitan erat, karena seorang penulis hanya akan menuliskan sesuatu yang dilihat, dialami dan dirasakan. Kemudian dituangkan dalam sebuah karya yang dipadukan dengan kekuatan imajinasinya.

    Namun diantaranya juga memiliki kategorinya masing-masing, jadi dalam pemahamanya juga dibeda-bedakan pula.
    Salam..

    • anazkia says:

      Waaa, terimakasih ada yang singgah di blog saya ๐Ÿ™‚

      terimakasih komentarnya. Ini mendadak jadi pengen aktif di WP lagi ๐Ÿ™‚

  5. kakaakin says:

    Jadi ingat pembicaraan dengan salah seorang teman, bagaimana bila cerita suram yang kita tulis itu menjadi nyata. Serem juga bila benar2 terjadi…

  6. aritunsa says:

    duhhh itu sih bener2 menyedihkan bukan dalam cerita saja sedihnya ๐Ÿ˜ฆ smoga Allah mengampuni Mak Cik

  7. noe says:

    hiks… ditinggal mati memang hal menyedihkan, apa lagi yang pergi adalah orang terdekat. kok jadi inget kakekku yg meniggal th 2000, aku dijemput dr kosan dan sampe rumah kakek sdh terbungkus ๐Ÿ˜ฆ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s