Kehilangan Pendengaran Menjadi Titik Balik Untuknya

Kemenangannya di Pesta Blogger 2010

Kemenangannya di Pesta Blogger 2010

Dulu, sejak awal mula bergabung di dunia blog saya tak pernah terpikir kalau di kemudian hari akan banyak memiliki teman. Dan sekarang saya selalu bilang berulang-ulang bahwa salah satu rezeki terbesar saya  melalui blog adalah teman-teman yang datang dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan dari luar negeri. Menulis di blog saat itu adalah penghilang rasa jenuh ketika masih berada di luar negeri.

Dari sekian banyak teman yang saya temui di dunia maya, ada seorang teman yang kadang membuat saya terkenang-kenang. Yusnita Febri atau saya akrab memanggilnya Mbak Nita seorang teman yang saya kenali melalui jejaring sosial multiply tahun 2010 banyak memberikan inspirasi hidup untuk saya.

Dengan tagline blog “Jadikan Kekuranganmu Untuk Maju” dan penjelasan kalimat di bawahnya

Duniaku dunia suara

Dunia kata-kata

Dengan hearing aid aku mendengar suara

Keterbukaannya yang menuliskan kalau dia seorang difable dan menggunakanhearing aid untuk mendengar membuat saya tertarik untuk menambahkan sebagai teman. Tak lama setelah berteman, interaksi melalui jurnal dan komentar di blog semakin mengakrabkan saya dengannya.

Di blognya, ia kerap menceritakan tentang aktivitas pekerjaan juga yang sering ia bagi dengan teman-temannya adalah bagaimana penggunaan, perawatan juga pemakaian hearing aid. Melihat lagi ke belakang, ke jurnal-jurnal lamanya barulah saya tahu kalau Mbak Nita awalnya adalah orang normal seperti saya. Mampu mendengar tanpa perlu menyelitkan hearing aid di telinganya.

Bermula dari penyakit paru-paru basah yang dideritanya ketika ia berusia 9 tahun. Meski penyakitnya sembuh, tapi Mbak Nita harus kehilangan pendengarannya. Menurut dokter yang memeriksanya, penyebab kehilangan pendengaran  adalah karena terlalu banyak mengkonsumi obat yang memakan waktu hampir setahun lebih.

Membaca kisahnya di blog bagaimana awal ia mengetahui kehilangan pendengaran bermula saat mendengarkan radio. Katanya, sang ibu kerap menegurnya kalau Mbak Nita memutar volume radio terlalu keras. Padahal, menurutnya ia memutar volume biasa saja dan tak begitu terdengar di telinga. Melihat perubahan tersebut, sang ibu akhirnya curiga dan membawa Mbak Nita ke dokter.

Ia bercerita, awalnya sedih saat tahu dirinya tak lagi mampu mendengar secara normal. “Apakah ia akan mampu melanjutkan sekolah?” begitu pertanyaan yang pertama kali muncul saat tahu pendengarannya tak lagi sama seperti sebelum-sebelumnya.

Titik Balik

Kehilangan pendengaran sejak usia 9 tahun tidak membuatnya menyerah pada keadaan. Ia belajar bagaimana caranya bisa berbaur dengan anak-anak normal lainnya dan bersekolah juga di sekolah umum. Meski berat, tapi Mbak Nita mampu menjalani semuanya dengan baik. Sekolah Dasar ia habiskan di sekolah negeri berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) juga Sekolah Menengah Atas (SMA) ia juga selesaikan di tempat umum. Berlanjut ke dunia perkuliahan, meski awalnya orang tua meragukan kemampuannya tapi Mbak Nita bersikukuh dapat menyelesaikan kuliah. Dan benar saja, di dunia perkuliahan ia menghabiskan waktu hanya 3,5 tahun dibandingkan waktu 4 tahun yang ditetapkan oleh kampusnya untuk menempuh strata 1. Ya, Mbak Nita lulus dengan cum laude! Subhanallah…. Keterbatasan mendengar merupakan momentum titik balik mbak Nita tapi ia bangkit dan terus memotivasi diri bahwa perbedaan didirinya bukan halangan untuk bersaing dengan teman-teman yang normal.

Tahun 2010 pulang saat saya pulang  ke Indonesia saya mempunyai kesempatan bertemu dengannya. Bertempat di rumahnya Mbah Marto menjelang Pesta Blogger 2010 akhirnya saya bisa menjabat erat tangannya. Pertama kali bertemu dengannya saya tak banyak bercerita. Karena hari sudah malam dan dia harus segera pulang, mengingat tempatnya yang jauh dari Jakarta. Karena rumah Mbak Nita di Tangerang.

Dalam ajang Pesta Blogger tersebut dia meraih juara kepenulisan yang diadakan oleh panitia. Tak tanggung-tanggung bukan hanya satu juara yang disabet, tapi dua sekaligus pada dua tema lomba yang berbeda. Dia betul-betul membuktikan bahwa kekurangannya dijadikan penyemangat untuk kemajuannya.

Mengenali Mbak Nita lebih dekat, dia adalah orang yang penuh semangat dan pantang menyerah. Ramah dan suka berteman dengan siapa saja. Jadi tak heran ketika ulang tahun multiply Indonesia pada bulan juni  tahun 2011 lalu gelar ratu kopdar disematkan kepadanya.

Tapi Allah lebih menyayanginya. 15 november 2011 Mbak Nita dipanggil oleh yang Kuasa. Hampir semua teman di jejaring social tak mempercayai kepergiannya, karena beberapa saat sebelumnya ia masih berinteraksi dengan beberapa teman di dunia maya. Setelah besoknya teman-teman berkunjung menziarahinya, barulah kami tahu kalau sebelumnya Mbak Nita memang sedang online dengan membuka semua jejaring social yang dia punya tanpa menutupnya. Saat online itulah, ia mendadak terbatuk-batuk. Ia beranjak ke kamar mandi, tak lama setelah itu ia keluar kamar mandi meminta tolong, tapi hidungnya sudah penuh oleh darah. Keluarganya langsung membawa ke rumah sakit. Tapi sampai di rumah sakit, Allah sudah memanggilnya terlebih dahulu.

Kepergiannya banyak teman yang merasa kehilangan. Kehilangan sosoknya juga kehilangan tulisannya yang kerap membahas tentang hearing aid. Kejadian yang menimpa sahabat kami adalah pelajaran berharga yang mengingatkanku bahwa maut bisa datang kapan saja. Oleh karenanya, selagi diberi kesehatan oleh yang kuasa kita siapkan segala sesuatunya sejak sekarang.

 13766387061961258509

Sebuah buku obituari untuknya

Advertisements

23 thoughts on “Kehilangan Pendengaran Menjadi Titik Balik Untuknya

  1. niprita says:

    Saya belum pernah kenal Mbak Nita, sayang sekali 😦
    tapi saya ingat waktu itu saya pernah buka note seorang kontak MP yang mengabarkan kepergian Mbak Nita, komen-komen dukacita dan doa… ternyata Mbak Nita lebih dari sekedar teman maya biasa.

    Semoga amal jariyah Mbak Nita berputar terus di dunia, menghasilkan kebaikan untuk dirinya juga. Aamiin

  2. titintitan says:

    ternyata sebulan stelah ayah gda juga..
    sebelumnya Mba Nita sempet menyapa dan berbela sungkawa di MP..

    dan kemaren tiba-tiba titin inget sm Mba Nita. baca jurnal ini jd pengingat bener2.. tentang Allah yg Mahabaik. ttg maut yg kapan saja bisa datang.

    nuhuun mba Anaz, pengingatnya.. ^^

  3. nengwie says:

    Alfatihah buat Non Nita.
    Sering berkirim PM dengan Nita.. Banyaknya teteh minta tolong.. Semoga Allah menempatkan di tempat yg mulia..aamiin.

    Anaaz.. Teteh punya bukunya lho.. Dikasih eh hadiah dr mbak Tintin.

  4. boemisayekti says:

    haru baca tulisan ini, bulan ini genap satu tahun mbak Nita berpulang ya,,,,
    saya ingat, di salah satu koment, mbak nita pernah koment kurang lebih gini “bu guru, kita sama-sama kecil (mungil), kalo ketemu harus foto bareng… ” hiks… belum sampai ketemu sosok mbak nita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s