Belajar Dari Mbak Olyvia Bendon

Hyak ampunnnnn ini dua-duanya gayanya preman banget, ya :D ahahahahaha

Hyak ampunnnnn ini dua-duanya gayanya preman banget, ya πŸ˜€ ahahahahaha (eh, ini pinjem dokumentasi fotonya si Snoopy ^_^

Pemanasan sebelum menulis serial ngukur jalan gratisan ke Trengganu πŸ˜€

Suasana caffe siang itu benar-benar hingar. Ratusan awak media dan blogger dari berbagai negara ngantri untuk mengambil hidangan. Sebagian besar peserta yang ada di ruangan tersebut sebelumnya bermandi-manda di pulau Redang. Lapar, tentu saja. Tak heran kalau dalam sekejap hidangan yang disediakan di caffe pun lenyap :D. Bahkan kami (saya, Mbak Olyv, Novi dan Tika) yang tak ikut bermandi-manda pun sudah dilanda lapar. Maklum, di pulau Redang tempat mandi sebelumnya tak ada satu pun manusia yang berjualan. Sejauh mata memandang Β tepian laut, hanya tepian, pepohonan, bangunan dan orang-oranglah yang kami jumpa. Tanpa ada makanan sedikitpun. Tak ayal, kami pun mengkhayal baso dan mie instant πŸ˜€ πŸ™‚

Kami duduk satu meja. Satu dan lain saling lirik-lirikan. Lirikkan terbanyak tentu saja jatuh kepada Mbak Olyv. Perempuan berbadan mungil ini pinggannya penuh dengan segala rupa makanan.

“Wah, banyak amat itu, Mbak,” spontan saya nyeletuk. Novi pun ikut menimpali. Sedang Tika, salah satu reporter majalah Kaver dari Medan tersenyum saja.

“Orang saya laper banget. Tadi pagi sarapan dikit doang,” ujar Mbak Olyv tanpa menghiraukan kami yang mengejek #Eh hahahaha πŸ˜›

Sambil mengunyah, sambil memamah biak. Saya asyik bercerita dengan perempuan ini. Perempuan yang saya kenali dari kompasiana. Perempuan yang awal saya kenal aneh namanya, perempuan yang ketika awal-awal saya baca tulisannya segan untuk mengenalnya. Iya, entahlah…. Kayaknya sejak zaman azali saya kerap dilingkupi segan dengan banyak orang :D. Tapi di meja makan negeri orang, kami akrab siang itu hahahaha….Β Saya dan Mbak Olyv berbincang banyak hal, tentang dunia blogger dan hingar bingarnya. Tentang segala rupa dan Tuhan Maha Sempurna.

“Nak join, boleh ke?” Abang Yusree, salah satu panitia dari Gaya Travel mendekati kami, hendak turut serta duduk satu meja.

“Boleh, Bang. Duduk aja,”

Berlima, obrolan kami mulai berubah tema. Kami berbincang mengenai industri pariwisata dan segala tetek bengeknya. Tak lama kami berbincang, salah satu pengurus pariwisata Trengganu mendekati meja kami (lupa namanya 😦 hiks, maafkan… Obrolan-obrolan singkat, tentang asal muasal serumpun bangsa dan budaya dibincangkan. Sebentar saja, sekilas saja karena pengurus pun keliling ke meja lainnya. Begitulah, di setiap tempat, di setiap destinasi, kami kerap diajak berbincang-bincang dengan pengurus pariwisata lokal. Bahkan dengan gubernur juga begitu (tulisan menyusul, yaks)

Selesai makan siang kami turun hendak menjamu mata. Masih ada luat biru yang belum kami nikmati. Meski kami semua (saya, Novi, Mbak Olyv dan Tika) nggak mandi di laut πŸ˜€ kami hanya menikmati panoramanya. Mas Yudas, Syauqi dan teman-teman lain dari Indonesia wajahnya sudah terlihat merah padam. Sementara saya dan Mbak Olyv kembali melanjutkan obrolan-obrolan yang tertunda di meja makan.

“Tentang pencapaian-pencapaian dan penghargaan, kalau rezeki kita itu tidak akan ke mana, ya, Mbak?”

“Bener, Naz. Makanya saya nggak ngoyo. Kemarin saya ikutan lagi ajang Srikandi Blogger 2014 yah, tidak berharap menang, kalah pun yah nyante aja,” tahun 2013 Mbak Olyv ikutan ajang Srikandi Blogger dan lolos 50 besar. tahun lalu, Mbak Olyv pun ikut lagi dan kembali hanya sampai 50 besar.Β “Pengalaman itu yang penting, Naz. Dan kalau kita ikhlas ngejalani apapun, saya yakin Tuhan itu nggak tidur.” 15 April 2014. Siang itu, cuaca di Pulau Redang sangat terik. Panas, sepanas-panasnya. Tapi hembusan angin laut yang sesekali menerpa kami membuat kami lupa dengan cuaca. Novi berlarian kesana kemari. Tika entah ke mana, sepertinya menemui temannya yang dari Medan. Syauqi, Mas Yudas dan yang lain pun masih sibuk sendiri.

Berbilang bulan obrolan kami berlalu. Berbilang hari, kami jarang ketemu ketika sudah sampai di Indonesia. Hanya tegur sapa di dunia maya penyambung kami. Ketika satu demi satu rezeki tanpa diduga datang menghampiri kami, kami selalu teringat obrolan kami di Pulau Redang. Kami selalu ingat dan selalu diingatkan. Ya, pemilik Semesta itu nggak tidur, Pemilik Semesta itu tak akan pernah mengingkari janjinya untuk segala apa yang kita kerjakan tanpa mengharap imbalan. Dia, Maha segala, tak kurang segala apa.

Bukti kalau Mbak Olyv makannya banyak #eh :D :P

Bukti kalau Mbak Olyv makannya banyak #eh πŸ˜€ πŸ˜›

Novy, Bang Yusree, Tika dan Mbak Olyv

Novy, Bang Yusree, Tika dan Mbak Olyv

Sambil ngobrol, kami lihat mereka yang sedang bermain-main. Peserta squid jigging dari luar negri :D

Sambil ngobrol, kami lihat mereka yang sedang bermain-main. Peserta squid jigging dari negeri lainnya πŸ˜€

Menjamu mata melihat alam-Nya

Menjamu mata melihat alam-Nya

Advertisements

36 thoughts on “Belajar Dari Mbak Olyvia Bendon

    • anazkia says:

      kan mulai tahun ini Anaz Insya Allah mau aktif di WP juga, Pak. Biar terhubung sama teman2 MP. kadang kangen. Beda lihat update status di FB sama baca tulisannya di blog hehehe. Mohon doanya, semoga Anaz bisa istiqomah. πŸ™‚

      Iya, Mbak Olyv mantan mpers juga πŸ™‚

  1. Olive B says:

    makasih udah buka aib, kata pak Tino: baguss! baru tahu dia ramping mungil #tersandung

    btw emang belajar apa sih Naz dari nih orang sampai dibuat tulisan khusus? kenalin donk *kabur aah*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s