Tempat Ngukur Jalan Terindah

Ini jalan menuju rumah

Ini jalan menuju rumah

Hyaelah, lebay banget judulnya pake bawa-bawa indah segala 😀 maaaappp. Sekali-sekali lebay-lebay dikitlah. Eh, tapi kata beberapa teman saya ini lebay 😦 #Abaikan

Kemarin itu mendadak kepikiran dan keinget kampung halaman. Keinget zaman di mana saya kecil. Keinget zaman di mana saya bermain menyusuri sungai, kebun, hutan dan segala rupa keindahan alam perkampungan. Dulu, duluuuu sekali saya selalu berharap bisa tinggal di kota menikmati keindahan kerlip lampu-lampunya ketika malam. Bagaimana kami ketika kecil dulu selalu takjub memandang kota kabupaten dari ketinggian dengan gemerlap lampu ketika pagi hari. Ya, dulu kami selalu bermimpi dan berangan bahwa kota itu adalah tempat yang menyenangkan.

Awal tahun 2014 lalu, saya berkunjung ke Curug Cilember di Bogor bersama seorang teman. Kami menyusuri jalanan menuju curug. Melewati jalan-jalan yang dilalui, sungguh saya seperti dilemparkan kepada masa kecil. Saya sampai berujar kepada teman saya, “Walah, dulu saya waktu kecil kalau main sering ke tempat kayak gini. Lah, sekarang ke tempat kayak gini mbayar,” celetukan sambil cengengesan itu menyadarkan saya. Kecil di kampung itu menjadi aset kekayaan cerita.

Kini, ketika pulang, saya akan menyusuri masa-masa kecil. Menyusuri tempat-tempat yang pernah dilalui ketika kecil. Meski kebanyakannya hanya sebatas sungai, kebun dan sawah. Untuk hutan, jaraknya sangat jauh dari kampung. Tidak berani kalau seorang diri ke hutan.

Disapa kabut ketika pulang itu sungguh suatu kebangaan. Jarang sekali menemukan momen ini.

Disapa kabut ketika pulang itu sungguh suatu kebangaan. Jarang sekali menemukan momen ini.

Kami biasa menyebutnya lunjar. Dulu, ketika kecil kerap mencari di kali. Nah, pulang kampung pas ada ikan ini sungguh kebahagiaan sekali :) langsung dibakar.

Kami biasa menyebutnya lunjar. Dulu, ketika kecil kerap mencari di kali. Nah, pulang kampung pas ada ikan ini sungguh kebahagiaan sekali 🙂 langsung dibakar.

Dibakar, yummy....

Dibakar, yummy….

 

Menyusuri persawahan dan sungai

Menyusuri persawahan dan sungai

Selamat pagi!

Selamat pagi!

Menyusuri kebun

Menyusuri kebun

Ini jaraknya sangat jauh dari rumah, berkilo-kilo meter. Tapi dulu kami mencuci mandi dan ngambil air dari sini :)

Ini jaraknya sangat jauh dari rumah, berkilo-kilo meter. Tapi dulu kami mencuci, mandi dan ngambil air dari sini 🙂

Ini pun sama, sangat jauh jaraknya. Tapi dulu kami enjoy-enjoy aja. Sekarang, sungai dan mata air udah sepi. Soalnya udah banyak yang punya kamar mandi sendiri.

Ini pun sama, sangat jauh jaraknya. Tapi dulu kami enjoy-enjoy aja. Sekarang, sungai dan mata air udah sepi. Soalnya udah banyak yang punya kamar mandi sendiri.

Dulu, di lajur sawah-sawah itu saya belajar mencari uang. Sejak usia 13 tahun :)

Dulu, di lajur sawah-sawah itu saya belajar mencari uang. Ketika saya berusia 13 tahun 🙂

Semua kenangan pulang tahun lalu. Semoga dalam waktu dekat ini akan kembali pulang ke kampung halaman. Tahun lalu, saya sempat dua kali pulang. Setelah sebelumnya sempat empat tahun nggak pulang. Tapi seindah-indahnya kenangan, sejak merantau hampir dua puluh tahun lamanya, saya belum pernah mudik ketika hari raya idul fitri :D. Kalau pun pernah mudik sekali momen idul fitri, sudah lewat beberapa hari. Tapi tetap, ngukur jalan terindah adalah kampung halaman. Menyusuri masa lalu….

Eh, kampungnya di mana? 😀 di Karangsari, Pulosari, Pemalang Jawa Tengah. Kota yang jarang dikenali dan tak banyak diketahui. Ia berada di antara Tegal dan Pekalongan. Sementara untuk menuju kampung halaman, butuh waktu dua jam lagi perjalanan naik kendaraan umum. Kalau naik motor nggak nyampe sejam kayaknya.

Advertisements

45 thoughts on “Tempat Ngukur Jalan Terindah

  1. Ria says:

    Ooo di Pemalang to, aku pernah lewat situ mbak. Sodaraku kan ada yg di Tegal, Slawi dan sekitarnya ….. hehehe. Pemalang itu dingin ya dan masih seger 🙂
    Tergoda banget liat sungai yang bisa dibuat mandi gitu, airnya jernih dan tampak adem…..

  2. firman n zaman says:

    karangsari masuk kedalam salah dua dari dua belas desa di kecamatan pulosari yang ketika musim kemarau datang tidak kekurangan stok air. jadi pengen mudik ke pulosari

  3. nunik utami says:

    Ibuku juga dari Pemalang. Banyak kenangan masa kecil juga yang tertinggal di Pemalang. Tapi sekarang suasananya sudah kurang desa. Kalau kampungmu, tampaknya asyik banget. Sampai sekarang masih desa banget, ya. Menyenangkan. Ayolah kapan kita pulang kampung bareng :))

  4. ponco nugroho says:

    Assalamualaikum… Keren Na…
    Nyesel. Kenapa dulu aku gak pernah ke pemalang, hanya cerita dari bude soal keindahan kampungmu… Suatu saat Insya Allah aku kesana. . 😊

    Salam buat ibu ya.

  5. ameliatanti says:

    Iyaaah kenapa ngga nemu venue ini ya waktu di Pemalang?

    Tanya dong Naz, “Emang mbak Tanti mampir?”

    “Engga, lewat doang”

    Krrrriiiiiikkkk….. krrriiiiikkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s