Mengunjungi Museum Kepresidenan Balai Kirti

1

Balai Kirti ampak dari depan

Ada haru yang menyesakkan dada ketika saya memasuki ruangan memorabilia BJ Habibie dan Gusdur. Saya mengesat buliran air mata yang jatuh tiba-tiba. Kalau sebelumnya di ruangan Presiden Soekarno saya seperti disusupi gelora semangat 45, rasa berbeda justru saya dapatkan saat memasuki dua ruangan Presiden ketiga dan keempat Indonesia tersebut. Meneliti satu persatu ruangan Habibie dan Gusdur, saya dikembalikan ke zaman reformasi ketika saya masih remaja. Menonton video sejarah presiden Habibie dan Gusdur, saya semakin digulung perasaan duka.

“Indonesia harus mengandalkan pada sumber daya manusia yang berbudaya, merdeka, bebas, produktif dan berdaya saing tinggi.” Bj Habibie

Dalam setiap ruangan, masing-masing presiden memiliki quote tersendiri untuk dipajang besar-besar berdekatan dengan foto presiden berkaitan. Di ruangan ini, pengunjung tidak diperkenankan mengambil gambar. Sebetulnya, handphone terpegang di tangan. Bisa saja saya mencuri-curi untuk mengambil gambar. Tapi saya belajar menahan diri untuk taat pada peraturan yang terpampang di banyak ruangan, β€œTidak diperbolehkan mengambil gambar.” Saya terbayang sosok kecil dan cerdas Pak Habibie yang memimpin Indonesia hanya berbilang 17 bulan saja. Tidak sampai dua tahun. Kenapa saya harus menangis untuk beliau? Tak ada jawaban pasti, selain saya merasa bahwa orang seperti beliau tak begitu diakui dan dihargai di negara sendiri. Barangkali, itu yang membuat mata saya berembun.

“Tidak ada kekuasaan yang layak dipertahankan dengan pertumpahan darah.” KH. Abudrrahman Wahid, pidato kepresidenan tahun 2001. Mendadak, isi kepala saya dipenuhi potongan-potongan gambar dari televisi belasan tahun lalu ketika beliau melambai-lambaikan tangan kepada media. Beliau duduk di kursi rodanya menggunakan celana pendek. Saat itu, seingat saya beliau baru lengser. Sebaris kalimat yang menjadi quotenya seperti menghempaskan saya ke masa lalu. Masa di mana saya masih remaja dan belum begitu mengenal sosok seperti Gus Dur. kembali, saya mengesat air mata. Lantunan doa dipanjatkan, semogaΒ  Pemilik semesta selalu menganugerahi keberkahan kepada beliau. Alfatihah…

11

Di sini, ruangan memorabilia masing-masing mantan presiden terpampang

“Jas merah, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah.” quote dari Pak Soekarno ini sudah sering saya lihat dan dengar di mana-mana. Baju khas Pak Karno ada di ruangan ini. Juga foto-foto beliau dengan berbagai orang-orang penting dari banyak negara dan foto-foto beliau beserta dengan keluarganya. Kharisma beliau sebagai seorang pemimpin, tak usah ditanya. Tentunya, ruangan Pak Karno ini ada di tempat pertama sebelum ruangan-ruangan memorabilia presiden lainnya.

“Bendera telah aku kibarkan pantang surut langkahku, walau tinggal sendirian.” Megawati Soekarno Putri, Jakarta 28 Oktober 1993. Saya tidak tahu, kenapa quotenya Bu Mega yang diambil dari tahun 1993. Padahal, beliau menjabat presiden dari tahun 2001-2004. Eh, apa ini saya salah lihat, ya? Mohon maaf sekiranya salah :D. Lihat foto dan quotenya Bu Mega saya nggak semangat dan nggak sedih, malah mikir orangnya ambisius banget. Maafkan saya ya, Bu Mega…

2

Pake hape seadanya aja, yaaaa? Iyaaaa πŸ˜€

“Kekuasaan itu menggoda, gunakan dengan penuh amanah untuk kepentingan bangsa.” Susilo Bambang Yudoyono, 2014. Ah! Pak SBY… Selama beliau menjabat sebagai presiden, saya menghormatinya sebagai seorang pemimpin negara. Pun ketika di akhir masa jabatannya netizen ramai-ramai merisaknya di twitter dengan tagar #ShameOnYouSBY saya justru mengutuknya. Merisaknya di twitter dengan tagar yang buruk sampai menjadi trending topic , seperti menjatuhkan pemimpin sendiri di mata dunia. Meski dari hati yang paling dalam, saya ngamuk saat beliau sibuk membuat lagu sampai dua album.Β  Dan membaca quotenya, saya nyengir sendiri. Pak SBY, sepertinya sekarang justru tergoda untuk berkuasa menjadi seorang pemimpin :D. Abis komen-komen bapak kadang nggak asyik sebagai seorang mantan presiden -_-

Keluar dari ruangan memorabilia presiden, saya tersadar bahwa masih kurang satu quote lagi dari presiden kedua Republik Indonesia, Pak Harto! Melihat sekeliling ruangan, suasanaΒ  sudah sepi, semua pengunjung sudah keluar dari semua ruangan. Saya buru-buru kembali ke ruangan Pak Harto.Β  Rupanya, saya melupakan satu ruangan untuk dimasuki. Tulisan yang konon merupakan tulisan tangan Pak Harto sendiri ini susah saya baca. Saya duduk, memerhatikan satu demi satu huruf yang tertera. Berkali-kali membaca, gagal. Tengok kanan kiri tidak ada orang, tiada pula yang dapat ditanya.

Saya mencoba mencernanya, “Dengan sebutir padi yang dapat kami beri untuk memperkokoh pondasi negara republik Indonesia.” 23 Agustus 1993. Saya meraba-raba kalimat tersebut, sepertinya kurang cocok. Dan ketika melihat catatan Jeni di blog, kalimatnya adalah seperti ini, “Hanya sebutir pasir yang dapat kami beri untuk memperkokoh pondasi negara republik proklamasi” itu dari blognya Jeni. Dan, yang benar adalah pasir! Ekekekeke… Terima kasih, Kajeni πŸ™‚

Kalimat sebutir pasir, rasanya tidak tepat. Yang lebih tepat menggambarkan adalah sebutir padi. Oke, barangkali kami memang sama-sama sulit untuk membaca tulisanΒ  tangan Pak Harto. Tapi membaca quotenya, saya merasa bahwa presiden yang memimpin selama 32 tahun ini sepertinya sangat membumi. Tapi sayangnya, Pak Harto ini juga dipenuhi dengan misteri. Nah, gambaran ini juga tercermin di patung-patung presiden yang ada di lantai bawah. Enam patung mantan presiden berjejer. Kalau diperhatikan dengan saksama, patung-patung itu seperti menggambarkan jelas sosok gambar masing-masing. Salut kepada yang membuat patungnya.

Barangkali, ada yang ingin melihat dan mengunjungi Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Museum ini berada di Bogor. Sabtu, 21 mei 2016 lalu saya berkunjung ke sana bersama dengan teman-teman dari Satu Juta Buku (@Sajubu_ID). Mereka berkolaborasi dengan teman-teman Terminal Hujan dan beasiswa alumni Sekolah Menengah Atas Kimia Bogor (SMAKBo). Tulisan lain, nanti akan ditulis di anazkia.com (kalau rajin) πŸ˜€

3

Dari pertama kali melihat ini, ada “nyawa” yang dapat terbaca 😦

12

Model, Ken Mentari Tilamura Astrada lalalalala πŸ˜›

10

Rame πŸ™‚

13

Paling ujung itu kosong, untuk presiden kemudian. Nah, kalau di tempat ini baru boleh foto-foto πŸ™‚

Advertisements

13 thoughts on “Mengunjungi Museum Kepresidenan Balai Kirti

  1. Prita Pdinata says:

    Wahhh seru ya isinyaaa, apalagi akan diupdate terus ya seiring pergantian presiden ke depannya. Jadi gampang belajar sejarah dan biografi presiden-presiden Indonesia.

    Sebenernya beberapa minggu lalu pengen berkunjung ke sini, tapi sesampainya di museum kata petugasnya harus bikin janji dulu H-7 kunjungan. Jadinya batal deh 😦 alih-alih, jalan-jalan ke Museum Etnobotani. Tapi sampe sekarang belum bikin janji kunjungan, masih bingung waktunya. Baca pos ini jadi makin pengenn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s