Fay, Serius Saya Nggak Alay

Hari ini, whatsapp dengan seorang yang entah bukan teman atau bukan. Kata Icha, dia salah satu calon donatur buku  projek #BukuUntukLahat. Saya tak mengenal namanya secara pasti selain “PayDonLahat” dari Icha yang saya artikan, Pay salah satu donatur buku untuk Lahat. Sejak minggu lalu, saya janjian dengan Pay untuk mengambil buku di Pulogadung yang katanya kudu saya sortir. Iya, belum disortir sama Kak Pay-nya itu 😀 :P. Dalam hati, kenapa gitu nggak dikirim aja ke museum Kebangkitan Nasional, terus kami sortir sendiri di museum 😀 Continue reading

Advertisements

Karma Jakarta

Macettttt

Macettttt (beruntungnya selalu naik kereta, meski resikonya yah penuh)

Dulu, ya…. Duluuuuu nggak pake dulu-dulu banget, saya itu sering berujar kalau nggak mau tinggal di Jakarta. Pokoknya, kota di Indonesia yang tidak ingin saya tempati itu adalah Jakarta. Bahkan saya ingat, pernah komentar di Kompasiana kalau nggak pengen tinggal di jakarta 😦 ini seriusan dulu pernah komen begitu. Pokoknya, buat saya jakarta itu ruwet, ruwet, ruwet dan ruwet. Macet, macet dan macett….

Continue reading

Tempat Ngukur Jalan Terindah

Ini jalan menuju rumah

Ini jalan menuju rumah

Hyaelah, lebay banget judulnya pake bawa-bawa indah segala 😀 maaaappp. Sekali-sekali lebay-lebay dikitlah. Eh, tapi kata beberapa teman saya ini lebay 😦 #Abaikan

Kemarin itu mendadak kepikiran dan keinget kampung halaman. Keinget zaman di mana saya kecil. Keinget zaman di mana saya bermain menyusuri sungai, kebun, hutan dan segala rupa keindahan alam perkampungan. Dulu, duluuuu sekali saya selalu berharap bisa tinggal di kota menikmati keindahan kerlip lampu-lampunya ketika malam. Bagaimana kami ketika kecil dulu selalu takjub memandang kota kabupaten dari ketinggian dengan gemerlap lampu ketika pagi hari. Ya, dulu kami selalu bermimpi dan berangan bahwa kota itu adalah tempat yang menyenangkan.

Continue reading

Belajar Dari Mbak Olyvia Bendon

Hyak ampunnnnn ini dua-duanya gayanya preman banget, ya :D ahahahahaha

Hyak ampunnnnn ini dua-duanya gayanya preman banget, ya 😀 ahahahahaha (eh, ini pinjem dokumentasi fotonya si Snoopy ^_^

Pemanasan sebelum menulis serial ngukur jalan gratisan ke Trengganu 😀

Suasana caffe siang itu benar-benar hingar. Ratusan awak media dan blogger dari berbagai negara ngantri untuk mengambil hidangan. Sebagian besar peserta yang ada di ruangan tersebut sebelumnya bermandi-manda di pulau Redang. Lapar, tentu saja. Tak heran kalau dalam sekejap hidangan yang disediakan di caffe pun lenyap :D. Bahkan kami (saya, Mbak Olyv, Novi dan Tika) yang tak ikut bermandi-manda pun sudah dilanda lapar. Maklum, di pulau Redang tempat mandi sebelumnya tak ada satu pun manusia yang berjualan. Sejauh mata memandang  tepian laut, hanya tepian, pepohonan, bangunan dan orang-oranglah yang kami jumpa. Tanpa ada makanan sedikitpun. Tak ayal, kami pun mengkhayal baso dan mie instant 😀 🙂

Continue reading